JAKARTA - Sekitar 80 persen dari 800 perusahaan di Inggris menyatakan telah merasakan atau kemungkinan akan merasakan dampak dari konflik di Timur Tengah, menurut Kamar Dagang Inggris (British Chambers of Commerce/BCC).
“Empat dari lima perusahaan atau 80 persen melaporkan adanya dampak yang sudah dirasakan atau diperkirakan akan muncul akibat konflik Iran, berdasarkan penelitian British Chambers of Commerce (BCC)," demikian pernyataan Kamar Dagang Inggris dilansir ANTARA dari Sputnik/RIA Novosti-OANA, Selasa, 26 Mei.
“Kenaikan harga energi dan biaya pengiriman menjadi dampak langsung yang paling sering disebut oleh perusahaan yang disurvei. Lebih dari 800 perusahaan berpartisipasi dalam penelitian daring selama April,” sambung organisasi tersebut.
Pernyataan itu menyebutkan industri manufaktur mengalami dampak terbesar, dengan 68 persen perusahaan mengaku sudah terdampak.
BACA JUGA:
Selain itu, sebanyak 23 persen perusahaan manufaktur dilaporkan menyatakan akan segera terdampak.
“Menurut penelitian tersebut, tiga perempat perusahaan atau 75 persen memperkirakan kenaikan tagihan energi dalam satu tahun ke depan akibat konflik tersebut. Sebanyak 43 persen perusahaan yang merespons menyatakan memperkirakan biaya energi mereka akan meningkat lebih dari 20 persen dalam 12 bulan mendatang,” demikian isi pernyataan itu.
Studi tersebut juga mendapati jumlah perusahaan yang melaporkan kesulitan membayar tagihan listrik meningkat 9 poin persentase sejak awal tahun, mencapai 36 persen.