JAKARTA - Kementerian Luar Negeri China menyebut tetap menentang penjualan senjata oleh Amerika Serikat ke Taiwan meski saat ini aktivitas tersebut dihentikan sementara karena perang Iran.
"Penentangan China terhadap penjualan senjata AS ke wilayah Taiwan konsisten, jelas, dan tegas," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing dilansir ANTARA, Sabtu, 23 Mei.
Berdasarkan pemberitaan, ASmengumumkan penundaan penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS (sekitar Rp248 triliun) kepada Taiwan karena perang dengan Iran masih berlanjut.
Presiden AS Donald Trump mengindikasikan penundaan penjualan senjata kepada Taiwan itu untuk alasan menjadikannya "alat negosiasi" dengan China.
"Saya belum menyetujuinya. Kita lihat nanti apa yang terjadi. Saya mungkin akan melakukannya (menjual senjata ke Taiwan). Saya mungkin juga tidak akan melakukannya," kata Trump kepada Fox News.
Usai lawatan ke China pada 13-15 Mei, Trump mengatakan telah membahas isu tersebut secara rinci dengan Presiden China Xi Jinping, sebelum memutuskan dalam waktu dekat soal penjualan itu.
Guo Jiakun juga menyebut China tetap tidak menyetujui setiap pertukaran resmi antara AS dan wilayah Taiwan.
"China mendesak AS untuk menerapkan pemahaman bersama yang penting antara kedua pemimpin China dan AS, menghormati komitmen dan pernyataannya, berhati-hati dalam menangani masalah Taiwan, berhenti mengirimkan pesan yang salah kepada kekuatan separatis 'kemerdekaan Taiwan', dan menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta momentum perkembangan hubungan China-AS yang stabil dengan tindakan nyata," ungkap Guo Jiakun.
AS diketahui selama beberapa dekade mematuhi "Six Assurances", enam prinsip kebijakan luar negeri yang mengatur hubungan AS-Taiwan sejak 1982 pada masa Presiden Ronald Reagan yang salah satu kesepakatannya menyatakan AS tidak berkonsultasi dengan China terkait penjualan senjata ke Taiwan.
BACA JUGA:
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao menjelaskan keputusan penundaan penjualan senjata ke Taiwan itu akan dilakukan oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Cao menegaskan militer Amerika masih memiliki cukup rudal dan sistem pencegat, meskipun muncul sorotan atas laporan persediaan amunisi AS menipis.
"Saat ini, kami sedang menghentikan sementara (penjualan senjata ke Taiwan) untuk memastikan kami memiliki amunisi cukup untuk operasi Epic Fury; yang sebenarnya kami punya banyak (senjata), tetapi kami hanya memastikan kami memiliki semuanya," kata Menteri Cao dalam Sidang Komite Senat, Kamis (21/5).
Meskipun Cao menegaskan stok amunisi militer AS masih cukup, berbagai laporan menyebut militer Amerika telah menggunakan ribuan rudal sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Penggunaan tersebut disebut telah menghabiskan hampir separuh stok rudal jelajah siluman jarak jauh milik Pentagon, serta mengurangi cadangan rudal Tomahawk, rudal pencegat Patriot, rudal Precision Strike, dan rudal berbasis darat ATACMS.
Gedung Putih disebut sedang merencanakan permintaan dana tambahan kepada Kongres sebesar 80-10 miliar dolar AS (sekitar Rp1,7 kuadriliun) untuk perang Iran.