HALMAHERA UTARA — Operasi pencarian korban erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, berakhir duka. Seluruh korban yang sebelumnya dinyatakan hilang telah ditemukan dan dievakuasi oleh tim SAR gabungan.
Erupsi Gunung Dukono terjadi pada Jumat, 8 Mei 2026. Peristiwa itu menyebabkan sejumlah orang terjebak di lereng gunung. Tim gabungan mulai bergerak sejak Sabtu, 9 Mei 2026.
Operasi pencarian melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BPBD Halmahera Utara, MAPALA, relawan, warga setempat, serta Emergency Response Team atau ERT PT Nusa Halmahera Minerals (NHM).
Tim Rescue NHM dipimpin Zakaria Barham, bersama Aristo Elly dan Fans Daniel Ambeua. Mereka bergabung dalam operasi penyisiran, pemetaan titik korban, pertolongan pertama, dan evakuasi menuju pos penanganan darurat.
Medan pencarian tidak mudah. Tim harus menembus lereng terjal, cuaca buruk, dan kondisi pascaerupsi yang masih berisiko. Dalam situasi seperti ini, kecepatan penting. Tetapi keselamatan tim juga tidak boleh ditukar dengan nekat.
BACA JUGA:
“Di tengah medan yang ganas dan cuaca yang tak bersahabat, bersama Tim SAR gabungan kami terus bergerak dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan. Kami berupaya menembus berbagai keterbatasan demi harapan dapat menemukan seluruh korban,” kata Komandan Tim ERT NHM, Zakaria Barham dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa, 12 Mei.
Korban pertama, Engel Krishela Pradita, ditemukan pada 9 Mei 2026 dalam kondisi meninggal dunia. Sehari kemudian, 10 Mei 2026, dua korban terakhir juga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Dengan temuan itu, seluruh korban yang dilaporkan hilang akibat erupsi Gunung Dukono telah dievakuasi dan dipindahkan ke pos penanganan darurat.
Keterlibatan ERT NHM menjadi bagian dari operasi kemanusiaan yang lebih luas. Dalam bencana seperti ini, respons cepat tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Aparat, relawan, warga, dan sumber daya perusahaan di sekitar lokasi harus bergerak dalam satu komando agar tidak ada korban yang tertinggal.