KUPANG - Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, menyatakan kondisi keamanan di Pulau Adonara saat ini sudah kondusif pascakonflik antara Desa Waiburak dan Narasaosina di Kecamatan Adonara.
Wakil Bupati Flores Timur Ignasius Boli Uran, mengatakan telah mempertemukan dua kepala desa dari wilayah yang terlibat bentrok tersebut.
"Kondisi keamanan di daerah itu sudah kondusif," katanya, Selasa 12 Mei.
Dalam pertemuan tersebut, Ignasius Boli Uran menegaskan bahwa konflik yang kembali pecah di wilayah Adonara Timur tidak boleh terus berulang karena hanya membawa penderitaan bagi masyarakat.
Dia menegaskan konflik itu tidak menghasilkan pemenang. "Yang ada hanya kehancuran materi dan meninggalkan dendam sejarah," tambahnya.
Ignasius meminta seluruh masyarakat dari kedua wilayah untuk menahan diri dan tidak lagi terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang berupaya memperkeruh situasi.
Menurut dia, konflik berkepanjangan hanya akan memperdalam luka sosial di tengah masyarakat yang sejatinya masih memiliki hubungan kekeluargaan dan sejarah persaudaraan.
"Pemerintah meminta kita semua berdiam diri dan menahan diri. Kalau ada pihak-pihak yang masih melakukan provokasi, segera laporkan. Jangan sembunyi-sembunyi," ujarnya.
Ignasius menegaskan bahwa pemerintah bersama aparat keamanan tidak akan menoleransi tindakan provokasi yang berpotensi memicu bentrokan susulan.
BACA JUGA:
Ia juga meminta masyarakat secara aktif melapor apabila mengetahui adanya upaya menghasut atau menggerakkan massa untuk kembali melakukan penyerangan.
"Ini tanggung jawab moral kita bersama untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Sekarang pemerintah tidak main-main," katanya.
Wakil Bupati Flores Timur juga meminta kedua belah pihak mulai menyiapkan dokumen sejarah dan bukti-bukti terkait klaim wilayah yang selama ini menjadi sumber perselisihan.
Menurut Ignasius, penyelesaian konflik harus ditempuh melalui dialog dan pembuktian yang jelas, bukan melalui kekerasan ataupun perang antarwarga.
"Kalau bicara soal hak ulayat atau klaim wilayah, siapkan sejarah dan bukti secara baik. Semua harus dibicarakan dengan terbuka," ujarnya.
Ia menilai penyelesaian persoalan tidak akan pernah tercapai apabila masing-masing pihak tetap bersikeras mempertahankan pendapat tanpa mau saling mengakui dan mendengar.
"Masalah apa pun tidak akan selesai kalau kedua pihak tidak mau saling mengakui dan membuka ruang dialog," katanya.
Menurut dia, penyelesaian terbaik tetap harus mengedepankan kesadaran bersama, perdamaian, dan keterlibatan para tokoh adat serta orang tua kampung.
"Kita semua punya niat baik. Hal-hal yang tidak baik harus kita tinggalkan. Konflik ini harus berhenti," tegasnya.