SURABAYA - Praktik curang penerimaan mahasiswa baru melalui sindikat joki ujian tulis berbasis komputer (UTBK) akhirnya terbongkar di Surabaya, Jawa Timur. Sedikitnya 114 peserta diduga berhasil diloloskan ke sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) favorit melalui jaringan terorganisasi yang telah beroperasi selama 9 tahun di berbagai daerah Indonesia.
Kasus ini terungkap setelah seorang joki tertangkap saat mengikuti UTBK di kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Polisi menyebut jaringan tersebut bekerja secara rapi dan melibatkan pelaku lintas provinsi.
Terbongkarnya sindikat bermula dari kecurigaan pengawas ujian terhadap peserta berinisial HR asal Surabaya. Foto pada dokumen administrasi disebut identik dengan data peserta tahun sebelumnya, tetapi menggunakan nama berbeda.
Kecurigaan semakin menguat ketika HR tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana terkait identitas pribadi sesuai data pada kartu tanda penduduk (KTP) yang dibawanya.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengatakan hasil penyelidikan mengungkap sindikat tersebut telah beroperasi sejak 2017. Polisi mengidentifikasi sedikitnya 15 tersangka yang memiliki peran berbeda dalam jaringan tersebut.
“Jaringan ini sangat rapi dan terstruktur di bawah kendali koordinator utama,” ujar Luthfie, Kamis 7 Mei.
Menurut polisi, para tersangka terdiri atas joki lapangan, pemesan jasa, hingga pembuat identitas palsu. Sebagian besar pengguna jasa diketahui menargetkan fakultas bergengsi, terutama fakultas kedokteran di sejumlah PTN favorit.
BACA JUGA:
Hingga kini, polisi telah menahan 14 tersangka dan masih memburu dua aktor utama lainnya yang diduga menjadi pengendali jaringan.
Sementara itu, status ratusan mahasiswa yang diduga lolos melalui jalur curang terancam dievaluasi oleh pihak kampus. Polisi juga terus mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam praktik kecurangan tersebut.