Bagikan:

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Tamhut) mempercepat penopingan atau pemangkasan pohon di seluruh wilayah ibu kota. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi dampak cuaca ekstrem akibat fenomena El Niño.

Menurut Pramono, pemangkasan pohon penting untuk meminimalkan risiko pohon tumbang yang dapat membahayakan warga, terutama saat terjadi angin kencang atau perubahan cuaca ekstrem.

"Saya meminta untuk yang lebih harus dipersiapkan adalah pohon-pohonnya. Memang kalau tidak dilakukan dengan baik, pasti ini juga akan terjadi seperti waktu yang lalu," kata Pramono di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 15 April.

Ia memastikan, proses penopingan saat ini sudah mulai berjalan di lapangan sebagai bagian dari langkah pencegahan dini. "Sehingga penopingan, pemotongan, merapikan, sekarang sedang dilakukan," lanjutnya.

Pramono menyinggung pengalaman sebelumnya ketika kondisi cuaca ekstrem memicu berbagai gangguan di Jakarta, termasuk risiko pohon tumbang. Karena itu, ia meminta jajarannya tidak mengulang kelalaian yang sama.

Selain itu, ia juga menyoroti curah hujan tinggi yang sempat melanda sejumlah wilayah Jakarta dalam beberapa waktu terakhir. Hujan deras tersebut sempat memicu genangan, terutama di wilayah perbatasan.

"Kemarin ketika terjadi curah hujan yang cukup tinggi, termasuk di perbatasan Jakarta Timur dengan Bekasi dan sebagainya yang menimbulkan genangan di beberapa tempat, walaupun sebentar kemudian kita bisa atasi," ujarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral dengan indeks ENSO (El Nino–Southern Oscillation) sekitar +0,28. Namun, pada semester II 2026, kondisi tersebut berpotensi berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat dengan peluang mencapai 50–80 persen.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa musim kemarau dan El Nino merupakan dua fenomena berbeda yang tidak selalu terjadi bersamaan. Meski demikian, jika keduanya beririsan, dampaknya dapat memperparah kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.

“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino itu dua fenomena yang berbeda. Kemarau tetap terjadi setiap tahun, tetapi jika El Nino hadir bersamaan, maka kondisi kemarau akan menjadi jauh lebih kering,” ujar Faisal dalam rapat koordinasi di Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Senin 13 April.

Ia menegaskan, potensi kondisi lebih kering pada 2026 perlu diantisipasi sejak dini, terutama dalam pengelolaan sumber daya air agar tidak terjadi ketimpangan antara banjir saat berlebih dan kekeringan saat kekurangan.