Bagikan:

JAKARTA - Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Ketua Kuomintang (KMT), Cheng Li-wun, di Beijing pada Jumat. Mengutip laporan Arab News, Jumat, 10 April, dalam pertemuan itu, Xi Jinping mengatakan dirinya “sepenuhnya yakin” rakyat China dan Taiwan pada akhirnya akan bersatu.

Cheng menjadi pemimpin pertama KMT yang berkunjung ke China dalam satu dekade. Kunjungan ini memicu perdebatan di Taiwan, dengan para pengkritiknya menilai Cheng terlalu dekat dengan Beijing.

Dalam pembicaraan yang disiarkan media Taiwan, Xi mengatakan arah hubungan warga di kedua sisi Selat Taiwan untuk semakin dekat dan menjadi bersatu tidak akan berubah. Menurut Xi Jinping, hal itu merupakan bagian sejarah yang tak terelakkan.

Di sisi lain, Cheng menekankan perlunya menurunkan ketegangan. Ia mengatakan berharap Selat Taiwan tidak lagi menjadi titik utama potensi konflik. Menurut Cheng, kedua pihak perlu melampaui konfrontasi politik dan mencari jalan untuk mencegah perang agar Selat Taiwan bisa menjadi contoh penyelesaian konflik secara damai.

Hubungan Beijing dan Taipei memang sudah lama memburuk. Masih merujuk laporan Arab News, China memutus kontak tingkat tinggi dengan Taiwan pada 2016 setelah Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik memenangi pemilihan presiden dan menolak klaim Beijing bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China.

Beijing sendiri terus menegaskan akan mengambil alih Taiwan dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan. Dalam beberapa tahun terakhir, China hampir setiap hari mengerahkan jet tempur dan kapal perang di sekitar pulau itu, serta rutin menggelar latihan militer skala besar.

Ketegangan makin terasa sejak terpilihnya penerus Tsai, Lai Ching-te, yang oleh Beijing dianggap separatis. Pada Jumat, Lai menulis di Facebook bahwa ancaman militer China di dan sekitar Selat Taiwan serta rantai kepulauan telah secara serius merusak perdamaian dan stabilitas kawasan.

Cheng tiba di Shanghai pada Selasa malam. Tak lama setelah tiba, ia mengatakan kedua sisi Selat Taiwan tidak ditakdirkan untuk berperang, seperti yang selama ini dikhawatirkan komunitas internasional.

Dalam lawatan itu, Cheng juga mengunjungi Nanjing di China timur dan mendatangi mausoleum Sun Yat-sen, tokoh revolusioner yang dihormati baik di Beijing maupun Taipei.