Bagikan:

JAKARTA - Ribuan jemaah memadati Masjid Al-Aqsa untuk menunaikan Salat Subuh pada Hari Kamis, setelah penutupan selama 40 hari yang diberlakukan Israel berakhir.

Sekitar 3.000 jamaah Palestina dapat melaksanakan Salat subuh di Kompleks Masjid Al-Aqsa, empat puluh hari setelah ditutup oleh otoritas pendudukan.

Pemerintah Provinsi Yerusalem melaporkan, ribuan jamaah dapat melaksanakan Salat Subuh di Masjid Al-Aqsa, meskipun ada tindakan ketat dari pendudukan, yang meliputi pemeriksaan identitas, mencegah sejumlah pemuda masuk, menyerang beberapa jamaah di gerbang dan mencoba mengusir mereka dari halaman masjid, dilansir dari WAFA (9/4).

Sementara itu, koresponden Anadolu di lapangan mengatakan, masjid yang terletak di Kota Tua itu dibuka kembali saat fajar, memungkinkan ratusan Muslim Palestina untuk memasuki Kompleks Al-Haram al-Sharif.

Saat gerbang dibuka dengan Azan Subuh, sejumlah besar jamaah berbondong-bondong ke tempat tersebut, banyak yang terlihat menangis dan melakukan sujud syukur di halaman masjid.

Ratusan Muslim berbaris untuk Salat Subuh, menandai ibadah berjamaah pertama di tempat tersebut sejak penutupannya.

Pemerintah Provinsi juga mencatat, polisi pendudukan menahan Munta Amara, seorang aktivis perempuan yang rutin salat di masjid tersebut, di salah satu gerbang Al-Aqsa, hanya beberapa jam setelah menahan seorang pemuda lain di dalam halaman masjid.

Tentara pendudukan juga menyerang sejumlah pemuda dan memaksa mereka meninggalkan kompleks Masjid Al-Aqsa, bertepatan dengan penggerebekan oleh para pemukim.

Diketahui, Israel menutup total akses ke Masjid Al-Aqsa pada 28 Februari, bertepatan dengan serangannya terhadap Iran, hanya mengizinkan staf masjid dan pejabat dari Wakaf Islam Yerusalem untuk salat di tempat tersebut, sementara warga Palestina lainnya terpaksa beribadah di masjid-masjid kecil di seluruh kota.

Pihak berwenang juga mencegah pelaksanaan Salat Idulfitri di Al-Aqsa tahun ini, menandai pembatasan pertama sejak pendudukan Israel atas Yerusalem Timur pada tahun 1967.

Selain itu, Israel juga menutup Gereja Makam Suci, salah satu situs tersuci umat Kristen di Yerusalem, selama periode yang sama.

Israel sendiri memperpanjang keadaan darurat hingga pertengahan April, tetapi tidak menjelaskan apakah masjid akan tetap ditutup selama periode tersebut.