JAKARTA - Otoritas pendudukan Israel melanjutkan penutupan Masjid Al Aqsa di Yerusalem yang diduduki.
Melalui militernya, Israel menjaga dan melarang jemaah muslim masuk ke kompleks tersebut selama 17 hari berturut-turut, dengan dalih keamanan karena perang AS-Israel terhadap Iran.
"Untuk pertama kalinya sejak 1967, otoritas pendudukan menghalangi jemaah untuk melaksanakan salat dan melaksanakan I'tikaf (pengasingan untuk beribadah biasanya selama sepuluh hari terakhir Ramadan di Masjid Al Aqsa, yang mengakibatkan tidak adanya jemaah pada Jumat terakhir Ramadan," kata Pemerintah Provinsi Yerusalem Palestina dalam siaran pers dikutip dari kantor berita Yordania, Petra, Senin 16 Maret.
Pemerintah Provinsi Yerusalem Palestina telah memperingatkan potensi provokasi dari organisasi ekstremis Yahudi bernama Temple Mount terhadap status quo Masjid Al-Aqsa di tengah kebijakan penutupan oleh otoritas pendudukan.
"Apa yang terjadi tidak dapat dianggap sebagai langkah-langkah keamanan sementara, seperti yang diklaim oleh otoritas pendudukan, tetapi merupakan bagian dari agenda politik dan ideologis yang bertujuan untuk mengubah status quo keagamaan, sejarah, dan hukum yang ada di kompleks suci tersebut," demikian pernyataan tersebut.
BACA JUGA:
Di satu sisi, pasukan pendudukan Israel terus melakukan operasi militernya di banyak lokasi.
Selain invasi darat di Lebanon dan serangan terhadap Iran, militer Israel tercatat pada hari ini melakukan operasi penggerebekan dan menangkap 25 warga Palestina di seluruh Tepi Barat dan Yerusalem.
Militer Israel kembali berdalih penangkapan demi keamanan dan stabilitas. Padahal menurut Palestinian Prisoners Club, mereka yang ditangkap membela diri di tanah yang diduduki setelah pemukim Yahudi terang-terangan menyerang kediaman atau properti milik warga Pelestina di tengah "mata dunia" tertuju pada serangan AS-Israel terhadap Iran.