JAKARTA - Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, memberikan respons positif atas kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Meski menyambut baik, Sukamta menekankan agar jeda kemanusiaan ini tidak hanya menjadi napas buatan sementara, melainkan jembatan menuju perdamaian permanen di kawasan Timur Tengah.
Sukamta mengingatkan bahwa stabilitas dunia saat ini sangat bergantung pada komitmen negara-negara besar untuk menghentikan agresi.
"Kita menyambut baik gencatan senjata ini dan berharap dapat terus berlanjut secara permanen. Dunia membutuhkan stabilitas dan yang lebih penting adalah tidak ada lagi negara yang melakukan agresi terhadap negara lain," ujar Sukamta dikutip dari ANTARA, Rabu, 8 April 2026.
Namun, politisi ini memberikan catatan kritis terhadap rekam jejak Israel dalam berbagai kesepakatan sebelumnya. Ia menyoroti seringnya terjadi pelanggaran komitmen oleh pihak Israel, baik dalam konflik di Palestina maupun Lebanon.
Sukamta pun meminta Presiden AS Donald Trump untuk bertindak tegas sebagai penjamin kesepakatan.
"Ini bahaya bagi perwujudan perdamaian kawasan. Pihak-pihak terkait, khususnya Presiden Donald Trump harus memastikan Israel untuk menahan diri dan mematuhi kesepakatan gencatan senjata," ucap Sukamta.
BACA JUGA:
Di sisi lain, Sukamta berharap momentum ini menjadi pintu masuk bagi penyelesaian masalah mendasar, yakni kemerdekaan Palestina.
Menurutnya, tanpa solusi kedaulatan bagi rakyat Palestina, eskalasi konflik akan terus berulang di masa depan.
Di luar isu politik, ia juga mengingatkan pemerintah Indonesia untuk memperkuat ketahanan nasional di sektor energi dan ekonomi, mengingat konflik global kini sudah merembet pada tekanan sistemis di Selat Hormuz yang berdampak langsung pada perdagangan dunia.
"Harapan kita sederhana, tetapi mendasar: gencatan senjata ini dapat berjalan permanen, tidak ada lagi agresi antarnegara, dan hak-hak bangsa Palestina dapat terpenuhi dalam bentuk kemerdekaan yang sah dan diakui dunia," pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran yang mencakup pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Merespons hal tersebut, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) mengonfirmasi bahwa pembicaraan diplomatik lanjutan dengan Amerika Serikat akan segera dimulai pada Jumat, 10 April 2026, di Islamabad, Pakistan.