JAKARTA - Tiga pasukan penjaga perdamaian PBB yang tewas dalam dua insiden terpisah di Lebanon pada bulan Maret kemungkinan besar tewas akibat tembakan tank Israel dan bom rakitan (IED) Hizbullah dalam kasus lainnya, menurut penyelidikan PBB.
Tiga prajurit TNI yang tergabung Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anm) Muhammad Nur dan Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon gugur saat menjalankan tugas pasukan penjaga perdamaian di Lebanon dalam dua insiden terpisah pada 29 dan 30 Maret.
"Kami telah meminta kepada pihak-pihak terkait agar kasus-kasus tersebut diselidiki dan dituntut oleh otoritas nasional untuk membawa para pelaku ke pengadilan dan memastikan pertanggungjawaban pidana atas kejahatan terhadap pasukan penjaga perdamaian,” kata juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric, melansir Al Arabiya dari AFP (8/4).
Sebelumnya, UNIFIL pada Hari Selasa mengumumkan sebuah proyektil yang menewaskan seorang penjaga perdamaian PBB di Lebanon bulan lalu ditembakkan oleh tank militer Israel.
Berdasarkan analisis lokasi benturan dan pecahan yang ditemukan di posisi tersebut, UNIFIL mengatakan peluru tersebut adalah proyektil persenjataan utama tank 120mm yang ditembakkan oleh tank Merkava Israel dari timur, ke arah Ett Taibe, dikutip dari Anadolu.
UNIFIL mencatat, mereka telah memberikan koordinat semua posisi dan fasilitasnya kepada militer Israel pada tanggal 6 Maret dan sekali lagi pada tanggal 22 Maret, beberapa minggu sebelum insiden tersebut, dalam upaya untuk mengurangi risiko terhadap personelnya.
Sedangkan terkait ledakan pada 30 Maret, Dujarric seperti dikutip dari pernyataan yang dibagikan Pusat Informasi PBB di Indonesia mengatakan berdasarkan bukti, analisis lokasi ledakan, serta IED kedua yang ditemukan dekat lokasi kejadian di hari yang sama, ledakan disebabkan IED yang diaktifkan oleh korban (tripwire). IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah.
BACA JUGA:
Diketahui, Kopda (Anm) Farizal tewas akibat ledakan proyektil di dekat fasilitas UNIFIL di Adchit Al Qusayr pada Minggu 29 Maret. Peristiwa tersebut juga menyebabkan Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan luka-luka.
Dalam kurun waktu 24 jam berikutnya, dua prajurit TNI atas nama Mayor Inf. (Anm) Zulmi dan Serka (Anm) Nur Ichwan tewas akibat ledakan yang mengenai konvoi pasukan PBB di dekat Bani Hayyan dalam serangan Hari Senin. Sementara dua lainnya, Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto luka-luka.