Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Kebudayaan membuka peluang kolaborasi dengan Mizan Production untuk menggarap film biopik Syekh Yusuf Al-Makassari. Rencana itu dibahas dalam pertemuan Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon dengan Presiden Direktur Mizan Group Haidar Bagir di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin, 6 April.

Pembahasan ini terkait momentum 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama, pemikir tasawuf, dan pejuang anti-kolonial yang pengaruhnya melampaui Indonesia. Fadli Zon menilai peringatan tahun ini punya arti strategis, bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga dalam sejarah global. Indonesia. Ia juga menyebut juga telah mengusulkan peringatan itu kepada UNESCO.

Fadli mengatakan Kementerian Kebudayaan mendorong skema co-production atau produksi bersama dalam pembuatan film tersebut. Menurut Menbud, kunci utamanya terletak pada kekuatan skenario dan pengembangannya.

“Kementerian Kebudayaan juga baru saja meluncurkan Dana Indonesia Raya yang bisa digunakan untuk matching fund. Kita juga baru buka untuk development fee dan post-production khusus film. Sekarang juga ada lomba penulisan skenario film sejarah, serta rencana afirmasi lima film sejarah,” ujar Fadli Zon.

Ia menambahkan, Kementerian Kebudayaan juga telah memfasilitasi sineas Indonesia mengikuti sejumlah festival film internasional seperti Rotterdam, Udine, Sundance, Clermont-Ferrand, dan Cannes.

Di sisi lain, Haidar Bagir mengatakan minat mengangkat kisah Syekh Yusuf sebenarnya sudah muncul sejak lama. Menurutnya, tokoh ini memiliki lapisan cerita yang kuat, mulai dari sisi keulamaan, pemikiran tasawuf, perjuangan anti-kolonial, hingga dimensi personal.

“Mizan berpengalaman dalam memproduksi berbagai film nasional, termasuk film Laskar Pelangi. Namun demikian, saya menekankan bahwa produksi film sejarah atau biografi memiliki tantangan tersendiri, terutama dari sisi pembiayaan dan dinamika pasar yang sangat kompetitif,” kata Haidar.

Dalam pertemuan itu, tim kreatif Mizan Production juga memaparkan pendekatan naratif yang menggabungkan sejarah dengan cerita kontemporer agar kisah Syekh Yusuf lebih dekat dengan generasi muda. Riset akademik juga ditekankan sebagai fondasi utama agar akurasi sejarah tetap terjaga.

Bagi Kementerian Kebudayaan, pengembangan film tokoh sejarah ini diarahkan untuk memperkuat literasi sejarah, membangun karakter bangsa, sekaligus mendorong diplomasi budaya melalui industri kreatif.