Bagikan:

CIREBON - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong Keraton Kasepuhan Cirebon tak berhenti sebagai tujuan wisata. Ia ingin keraton ini diperkuat sebagai pusat edukasi budaya, dengan narasi sejarah yang lebih hidup dan mudah ditangkap pengunjung.

Saat meninjau Keraton Kasepuhan, Sabtu, 3 April, Fadli menilai kekuatan utama kawasan ini bukan hanya usia dan warisannya, tetapi juga jejak panjang peradaban yang masih berdiri. Keraton Kasepuhan disebut berusia sekitar 600 tahun, didirikan Sunan Gunung Jati, dan menjadi bagian penting dari sejarah Kesultanan Cirebon yang disebut lebih tua dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Di hadapan Sultan Sepuh XV Luqman Zulkaedin, Fadli mengapresiasi koleksi yang dimiliki Keraton Kasepuhan. Namun, ia menilai pekerjaan rumahnya belum selesai. Menurut Menbud, museum di kawasan keraton sudah cukup baik, tetapi perlu penguatan pada storytelling, tata pamer, dan pencahayaan agar narasi sejarahnya lebih kuat.

“Kita ingin menghidupkan kembali narasi sejarah yang ada di sini. Cirebon bukan hanya aset Jawa Barat, tapi aset bangsa,” ujar Fadli.

Sorotan utama Menbud Fadli tertuju pada Museum Pusaka Keraton Kasepuhan. Koleksinya dinilai lengkap, tetapi belum sepenuhnya berbicara kuat kepada publik. Ia ingin generasi muda tidak hanya datang melihat benda bersejarah, melainkan juga memahami transformasi arsitektur dan budaya Cirebon sejak abad ke-15 hingga sekarang.

Keraton Kasepuhan berdiri di lahan sekitar 25 hektare dan dikelilingi tembok bata peninggalan Pangeran Cakrabuana. Di dalamnya terdapat Siti Inggil, gapura candi bentar, Museum Pusaka Kasepuhan, Dalem Agung Pakungwati, dan bangunan lain. Sultan Sepuh menyampaikan kondisi fisik keraton saat ini juga memerlukan penanganan khusus.

Bagi Kementerian Kebudayaan, titik tekan kunjungan ini jelas yaitu Keraton Kasepuhan harus tetap hidup, bukan hanya sebagai penanda masa lalu, tetapi juga ruang belajar budaya dan sains yang relevan bagi publik hari ini.