JAKARTA - Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Sekretaris Jenderal dan Dewan Keamanan menyampaikan belasungkawa sekaligus menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target. Uni Eropa serta sejumlah negara seperti Prancis juga mengecam keras insiden tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
Pengamat geopolitik, Fauzan Luthsa, menilai narasi yang berkembang di publik perlu dilihat secara lebih luas dalam konteks geopolitik global. Menurutnya, terdapat indikasi adanya agenda besar yang menyasar legitimasi peran PBB dalam menjaga perdamaian dunia.
“Ada indikasi taktik licik untuk melemahkan peran PBB. Serangan terhadap pasukan perdamaian tidak bisa dilihat sebagai insiden biasa,” ujarnya kepada VOI, Kamis, 2 April.
BACA JUGA:
Fauzan juga menyoroti bahwa dalam beberapa waktu terakhir, Amerika Serikat dan Israel kerap melontarkan kritik terhadap PBB, yang dinilai berpotensi menggerus legitimasi lembaga internasional tersebut.
“Narasi yang menyerang PBB dan mengkerdilkan perannya sudah terlihat. Ini berbahaya karena bisa melemahkan sistem keamanan global,” tegasnya.
Fauzan juga mengungkap bahwa Indonesia sebelumnya sempat menunda agenda tertentu di level internasional, yang ia sebut sebagai bagian dari dinamika diplomasi global. Ia menilai langkah-langkah tersebut menunjukkan kehati-hatian Indonesia dalam merespons situasi global yang kompleks.
“Bulan lalu Indonesia menunda BOP, dan ini harus dilihat sebagai bagian dari dinamika strategis, bukan kelemahan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fauzan menilai serangan terhadap pasukan perdamaian PBB berpotensi menjadi bagian dari agenda yang lebih besar. Dia menambahkan kondisi ini harus menjadi perhatian serius komunitas internasional agar tidak terjadi eskalasi yang lebih luas.
“Ada dugaan agenda jahat untuk melemahkan pasukan perdamaian dunia. Jika PBB dilemahkan, maka mekanisme global untuk menjaga perdamaian juga ikut terancam,” ungkapnya.