JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakanimunisasi campak bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan (nakes) akan segera diberikan usai pihaknya mendapatkan klarifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang studi efikasi vaksin campak bagi orang dewasa.
"Jadi vaksinasi ini yang paling penting kan sebenarnya surat indikasinya. Itu kan untuk anak-anak, tapi sebenarnya ada studinya untuk orang dewasa. Kita minta dari klarifikasi dari BPOM dulu, vaksinasi ini memang ada studi efikasinya untuk orang dewasa," kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes)Dante Saksono Harbuwono dilansir ANTARA, Rabu, 1 April.
Wamenkes Dante menyebutkan setelah mendapatkan respons terkait dari BPOM, pihaknya akan langsung menyelenggarakan imunisasi campak bagi para tenaga medis dan nakes yang mempunyai risiko tinggi untuk tertular penyakit tersebut.
Untuk awalnya, kata dia, Kemenkes akan memilih 10 daerah prioritas, yakni daerah dengan kasus tertinggi, yaitu Tangerang Selatan, Tangerang, Bima, Palembang, Pandeglang, Jakarta Barat, Depok, Palu, Serang, dan Jakarta Pusat.
"Setelah dilakukan vaksinasi yang tinggi, kita evaluasi apakah ada potensi untuk menyebarkan ke daerah yang lainnya," kata WamenkesDante.
Selain vaksinasi, menurutnya, yang terpenting adalah komunikasi, informasi, dan edukasi, tentang pola hidup bersih dan sehat bagi tenaga medisdan nakes.
"Gimana cuci tangan yang benar, gimana selalu pakai masker waktu periksa. Itu akan kita masyarakatkan lagi baik kepada nakes maupun kepada masyarakat," kata WamenkesDante.
Sebelumnya Kemenkes mengatakan pihaknya bakal memberikan vaksinasi campak kepada tenaga kesehatan dan nakes yang termasuk kelompok rentan terhadap campak.
"Apakah ada rencana vaksinasi? Ya betul, kita akan mengarah ke sana. Dan secara cepat kami juga siapkan analisis daripada uji vaksinnya, uji klinisnya, terkait dengan program vaksin yang digunakan saat ini," kata Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni di Jakarta, Senin.
Menurut data Kemenkes, delapan persen kasus campak terjadi pada orang dewasa, meski memang mayoritas terjadi pada balita.
Andi menjelaskan sebenarnyajika sudah menerima imunisasi campak dan rubella dua kali, yakni pada umur 18 bulan dan pada usia kelas 1 SD, maka perlindungan sudah optimal.
BACA JUGA:
Namun pada orang dewasa, kata dia, ada kondisi-kondisi lain yang dapat memengaruhi, misalnya imunitas yang lemah, penderita HIV/AIDS, atau menderita penyakit kronis seperti diabetes, kanker, dan hipertensi.
"Dan tentunya intensitas terpapar oleh campak. Khususnya tenaga kesehatan itu juga menjadi faktor risiko," katanya.
Selain surveilans dan vaksinasi, pihaknya juga baru-baru ini mengeluarkan Surat Edaran (SE) sebagai upaya menjaga tenaga kesehatan dan tenaga medis dari campak.