JAKARTA - Pembelajaran jarak jauh di seluruh Uni Emirat Arab (UEA) akan berlanjut setidaknya hingga 17 April dan akan ditinjau setiap minggu setelahnya, menimbang masih berlangsungnya konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran akhir Februari lalu.
Kementerian Pendidikan Uni Emirat Arab mengonfirmasi keputusan tersebut dalam sebuah pernyataan.
Keputusan ini berlaku untuk "siswa, serta staf administrasi, di semua taman kanak-kanak, prasekolah, dan sekolah negeri dan swasta di seluruh negeri untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan semua orang," kata kementerian tersebut, dilansir dari The National (31/3).
"Situasi akan ditinjau setiap minggu," lanjut kementerian.
Pemerintah sebelumnya mewajibkan semua sekolah dan universitas untuk beralih ke pembelajaran jarak jauh pada awal Maret karena serangan rudal dan drone Iran. Sekolah dan universitas kemudian diminta untuk memulai liburan musim semi satu minggu lebih awal dari yang direncanakan pada 9 Maret.
Sekolah dan universitas di Uni Emirat Arab telah beroperasi secara jarak jauh sejak saat itu.
Sejak awal serangan Iran, sistem pertahanan udara UEA telah mencegat 425 rudal balistik, 15 rudal jelajah dan 1.941 drone.
Serangan tersebut mengakibatkan gugurnya dua personel militer dan seorang warga sipil Maroko yang dikontrak oleh Angkatan Bersenjata, serta delapan korban jiwa dari warga negara Pakistan, Nepal, Bangladesh, Palestina, dan India.
Selain itu, sedikitnya 178 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
BACA JUGA:
Diketahui, AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, memicu ketegangan di Timur Tengah.
Sebagai respons, Negeri Para Mullah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan, termasuk pengendalian ketat Selat Hormuz yang vital lantaran dilalui 20 persen minyak mentah dan gas alam cair dunia.