JAKARTA - Pengusaha Irawan Prakoso membantah mengintervensi PT Pertamina (Persero) menyewa terminal bahan bakar minyak (BBM) milik Muhammad Kerry Adrianto Riza.
Pernyataan disampaikan Irawan saat bersaksi dalam persidangan dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk kilang PT Pertamina yang menjerat mantan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Alfian Nasution dan mantan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Hanung Budya Yuktyanta. Sidang digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa, 31 Maret.
Irawan saat itu dikonfirmasi penasihat hukum terdakwa, Aldres Napitupulu terkait sejumlah poin dalam dakwaan. Dia disebut terlibat sebagai pihak yang menyampaikan pesan dari Muhammad Riza Chalid terkait penyewaan terminal BBM milik PT OTM.
"Ini ada dakwaan seperti ini Pak, benar enggak, Bapak tahun 2012 sebagai orang kepercayaannya Muhammad Riza Chalid menyampaikan pesan dari Muhammad Riza Chalid agar Pertamina Persero menggunakan TBBM di Merak ke Pak Hanung?" tanya pengacara terdakwa, Aldres Napitupulu.
"Tidak pernah Pak," jawab Irawan tegas.
Irawan juga membantah pernah menawarkan atau menyampaikan informasi terkait rencana pengambilalihan terminal BBM PT OTM kepada Hanung. Bantahan itu disampaikan Irawan setelah Aldres membacakan surat dakwaan yang menyebut Irawan bertemu Hanung pada Maret 2013. Aldres mengonfirmasi pertemuan itu membahas TBBM PT OTM yang ditawarkan kepada Pertamina.
"Ada lagi di dakwaan, di halaman 29 nih Pak, katanya di bulan Maret 2013 Bapak ketemu lagi sama Pak Hanung nih, menyampaikan informasi ada TBBM ya, milik Oil Tangki Merak yang akan dijual lalu Bapak menyatakan tangki merak akan mengambil alih dan menawarkan ke Persero, Pertamina Persero yang direspons Pak Hanung supaya Pak Irawan masukan surat penawaranya?" tanya Aldres.
"Tidak ada, tidak pernah," jawabnya.
Irawan juga membantah pernah mendesak Hanung untuk mempercepat atau mengupayakan penyewaan terminal BBM milik OTM.
“Enggak pernah,” ucapnya.
Terkait pertemuan-pertemuan yang disebut dalam dakwaan, Irawan mengakui pernah bertemu Hanung. Namun, pertemuan itu dalam konteks silaturahmi atau pertemuan biasa. Hanungmenegaskan tidak ada pembahasan mengenai kerja sama terminal BBM dalam pertemuan itu.
“Silaturahmi Pak,” ujar Irawan.
Ia juga menyatakan tidak pernah berkomunikasi dengan pihak lain terkait penggunaan fasilitas TBBM Merak maupun persoalan pembayaran oleh Pertamina.
“Saya tidak pernah komunikasi dengan Pak Suhartoko,” katanya.
Irawan juga mengaku tidak mengetahui adanya isu Pertamina mengunggak membayar sewa terminal BBM milik PT OTM. Ditekankan, Kerry Riza tidak pernah menceritakan mengenai hal tersebut.
"Kemudian nih Pak, antara tahun 2014 sampai 2017 apakah Kerry atau direkturnya Pak Gading pernah menghubungi Bapak atau entah dari mana Bapak tahu penggunaan fasilitas TBBM Merak belum dibayar oleh Pertamina? sehingga minta tolong Bapak untuk menyelesaikannya atau gimana?" tanya Aldres.
"Oh enggak, enggak pernah," jawab Irawan.
"Bapak pernah tahu bahwa 2014 sampai 2017 Pertamina tidak membayar penggunaan TBBM itu, pernah diceritakan enggak Pak?" cecar Aldres.
"Tidak tahu," tegas Irawan.
BACA JUGA:
Irawan menegaskan tidak pernah menekan Hanung, Alfian, atau pihak Pertamina lainnya terkait penyewaan terminal BBM milik PT OTM. "Baik atas nama saya sendiri atau atas nama Pak Mohammad Riza Chalid atau atas nama OTM," ujarnya usai persidangan diglar.
Selama bertemu dengan Hanung, Irawan tak pernah mengatasnamakan atau menyampaikan pesan Riza Chalid.
"Jadi yang saya bicarakan adalah masalah peluang bisnis lainnya. Yaitu waktu itu saya yang saya sampaikan di sidang juga bahwa waktu itu saya ingin apa namanya, ingin merintis bisnis biosolar. Walaupun pada akhirnya bisnis itu tidak terjadi. Jadi sebenarnya itu uh, pada prinsipnya," ungkap dia.
Irawan tak khawatir dengan ancaman jaksa yang meminta majelis hakim menetapkannya sebagai tersangka pemberian keterangan palsu di persidangan. Pengusaha ini merasa menyampaikan keterangan dengan sebenar-benarnya.
"Ya kalau saya, kalau saya tidak memberikan keterangan palsu, saya memberikan keterangan sebenarnya, ya buat apa saya takut? Ya kan? Itu aja kan sesimpel itu," tegasnya.
Terakhir, dia juga membantah lima unit mobil yang disita Kejaksaan Agung merupakan milik Riza Chalid. Irawan menyebut kendaraan tersebut merupakan miliknya.
"Mobil-mobil itu adalah hasil kerja keras saya, hasil keringat saya sendiri, ya kan? Tidak ada keterkaitannya sama sekali dengan uh, Mohammad Riza Chalid. Gitu. Jadi mudah-mudahan ya mobil itu bisa dikembalikan kembali ke saya," pungkas dia.