JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merespons aksi warga yang membuat zebra cross secara swadaya dan dihiasi karakter permainan Pac-Man di Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan.
Pramono mengapresiasi kreativitas masyarakat yang memiliki inisiatif untuk menggambar sendiri fasilitas penyeberangan jalan yang sebelumnya kosong pada sisi sebelah ruas jalan tersebut. Namun, Pramono menekankan pemasangan zebra cross memiliki aturan tersendiri.
"Yang untuk zebra cross, kreativitas warga saya mengucapkan terima kasih. Hanya memang zebra cross itu kan juga ada aturan mainnya. menurut saya ini kan kreativitas yang positif, sehingga dengan demikian yang sekarang terjadi di lapangan kami sempurnakan lagi," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa, 31 Maret.
Pramono menekankan, Pemprov DKI akan mengembalikan penyediaan zebra cross di lokasi tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Kami kembalikan kepada aturan yang memang sudah diatur untuk zebra cross. Itu memang ada aturannya dan itu berlaku nasional, bukan hanya nasional, internasional. Kami memberikan apresiasi teman-teman yang kreatif, tetapi kami harus kembalikan ini kepada apa yang sudah menjadi aturan tentang zebra cross," ujar Pramono.
Pramono menyadari aksi inisiatif warga yang mengecat zebra cross dengan motif Pac-Man dilatarbelakangi oleh keresahan mereka karena hilangnya fasilitas pejalan kaki sejak satu tahun lalu.
Karena itu, ia meminta maaf karena Pemprov DKI baru berreaksi setelah zebra cross tersebut viral di media sosial. " Kami minta maaf untuk itu. Dan makanya saya bilang kreativitas warga saya ucapkan terima kasih dan respect," lanjutnya.
Sebelumnya, aksi warga yang membuat zebra cross bergambar karakter permainan Pac-Man di Jalan Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, viral di media sosial. Aksi itu dilakukan karena warga menilai fasilitas penyeberangan di lokasi tersebut tidak memadai, lantaran zebra cross hanya tersedia di satu sisi jalan.
Relawan penggambar zebra cross, Rafli Zulkarnaen atau Ijoel mengaku aksi tersebu mereka lakukan setelah laporan hilangnya fasilitas tersebut tidak mendapat respons pada aplikasi JAKI selama lebih dari satu tahun.
"Warga sudah lapor lewat JAKI dan ke kecamatan sejak setahun lalu, tapi didiamkan. Giliran warga bertindak dan viral, baru bicara soal aturan. Jangan 'sadar diri' karena viral saja," kata relawan Rafli Zulkarnaen atau Ijoel, Senin, 30 Maret.
BACA JUGA:
Dia mengatakan awalnya, di kawasan dekat GPIB Bukit Moria Tebet itu tengah dilakukan pengaspalan sebagai upaya perbaikan jalan pada 2025.
Setelah pengaspalanitu rampung, diharapkanzebra crossakan dibuat kembali sebagai marka jalan, terlebih mengingat lokasi itu dekat dengan halte Transjakarta, gereja, sekolah serta kantor Kecamatan Tebet.
Akan tetapi, marka jalan itu tidak kunjung dibuat, sehingga warga menyampaikan keluhan mereka melalui berbagai jalur resmi, termasuk JAKI, sejak 2025, namun tidak ada respons maupun tindak lanjut sama sekali.
"Pengaspalan cuma di sisi depan gereja saja, dan setelah itu, marka jalan atauzebra cross-nya hilang sama sekali, nggak dipasang lagi sampai setahun lebih," ujar Ijoel.