Bagikan:

JAKARTA - Kenaikan harga BBM akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran mulai menghimpit petani Thailand. The Guardian dikutip Jumat, 27 Maret melaporkan, petani kini kesulitan mendapatkan solar untuk mengairi sawah, sementara harga pupuk untuk musim tanam berikutnya juga terancam ikut naik.

Di Ayutthaya, Thailand tengah, petani padi Thanadet Traiyot harus mengantre berjam-jam di SPBU sambil membawa jeriken, tetapi tetap gagal mendapatkan solar karena stok habis. Lima hari kemudian, persediaan bahan bakarnya masih belum kembali normal. Di sawahnya, ia kini harus mengatur pompa air mana yang bisa dimatikan agar sisa solar cukup.

“Kami sangat terdampak karena petani bergantung pada bahan bakar untuk bekerja. Kami perlu bahan bakar untuk merawat tanaman dan memompa air agar padi tetap hidup,” kata Thanadet.

Menurut The Guardian, Thailand dan sejumlah negara tetangganya yang bergantung pada energi impor dari Timur Tengah kini berada di garis depan krisis energi. Pemerintah Thailand menyebut cadangan energi nasional masih cukup untuk 100 hari. Namun di banyak daerah, antrean panjang dan tanda “stok habis” mulai muncul di SPBU. Dampaknya sudah merembet ke layanan taksi, kapal wisata, hingga kremasi di sejumlah kuil.

Tekanan ini juga dirasakan petani dan nelayan. Thailand merupakan salah satu eksportir utama beras, gula, serta ikan kaleng dan olahan. Petani kesulitan mendapatkan solar untuk menyalakan mesin, termasuk saat panen, sementara banyak nelayan tak bisa melaut. Kelompok nelayan bahkan memperingatkan industri itu bisa berhenti total dalam hitungan hari bila pemerintah tidak membantu biaya bahan bakar.

Harga solar di Thailand naik menjadi 38,94 baht per liter pada Kamis, setelah subsidi pemerintah berakhir. Sebelum perang, harganya 29,94 baht per liter. Bagi petani, lonjakan ini menjadi beban baru karena kebutuhan solar diperkirakan akan lebih besar saat masa panen tiba.

Petani lain di Ayutthaya, Pairote Rodpai, mengatakan keluarganya yang menggarap lahan 11,2 hektare mulai cemas melihat arah harga. Pamannya, Theerasin Thanachawaroj, menyebut keluarganya sudah tiga generasi bertani, tetapi belum pernah menghadapi gangguan seperti sekarang.

Masalah lain yang mulai dibayangi petani adalah pupuk. Presiden Asosiasi Petani Thailand Pramote Charoensilp mengatakan dalam sebulan petani akan mulai membeli pupuk untuk panen berikutnya, sementara komoditas itu juga terkait pasokan dari Timur Tengah. Jika perang berlanjut sampai Mei, menurut dia, tekanan harga akan jauh lebih berat.

The Guardian juga menulis, Teluk Persia adalah pusat penting produksi dan ekspor pupuk global. Tidak seperti minyak, sektor pupuk tidak memiliki cadangan strategis internasional. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB sudah memperingatkan perang ini bisa menjadi guncangan besar bagi sistem pangan dunia. Program Pangan Dunia memperkirakan jumlah orang yang menghadapi kelaparan akut dapat mencapai rekor 363 juta pada 2026 jika konflik terus berlanjut.

Thailand telah menyiapkan bantuan, termasuk rencana membeli beras di atas harga pasar dan memberi subsidi pupuk. Namun bagi banyak petani, pilihan saat ini hanya satu: menanggung biaya yang terus naik.

“Kami tidak bisa membiarkan tanaman membusuk dan mati di sawah,” kata Thanadet dikutip dari The Guardian.