JAKARTA – Sore itu, Jumat (27/3/2026), langit di atas Istana Merdeka tampak teduh. Jarum jam menunjukkan pukul 16.25 WIB ketika deru motor pengawal mulai terdengar memasuki halaman. Namun, pemandangan kali ini terasa berbeda dari penyambutan kenegaraan biasa. Tidak ada kesan kaku; yang ada hanyalah kehangatan dua sahabat lama yang hendak melepas rindu di bulan kemenangan, Idulfitri 1447 H.
Presiden Prabowo Subianto sudah berdiri tegak di sisi barat Istana. Begitu pintu kendaraan terbuka, ia tidak menunggu di podium utama. Dengan langkah tegap namun penuh keramahan, ia langsung menghampiri pintu mobil Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Anwar Ibrahim. Sebuah gestur penghormatan yang mendalam, sekaligus penegasan bahwa yang datang sore itu bukan sekadar tamu negara, melainkan seorang saudara.

Di tengah derap langkah mereka, udara Jakarta tiba-tiba diwarnai oleh melodi yang sangat akrab di telinga masyarakat serumpun. Korps musik memainkan lagu Rasa Sayange.
Mendengar nada-nada ceria itu, senyum PM Anwar merekah lebar. Tanpa ragu, ia menggumamkan liriknya, ikut bernyanyi kecil mengikuti irama musik. Momen spontan ini seolah meruntuhkan sekat-sekat birokrasi yang dingin. Musik itu bukan lagi sekadar pelengkap upacara, melainkan jembatan rasa yang menyatukan memori kolektif dua bangsa bertetangga.
Dalam nuansa Idulfitri 1447 Hijriah yang masih kental, keduanya berjalan berdampingan menuju bagian dalam Istana. Tidak ada jarak. Mereka berbincang akrab, sesekali diselingi tawa ringan, layaknya dua kerabat yang bertemu di hari lebaran.
BACA JUGA:
Pertemuan di dalam Istana pun mengalir dengan cair. Meski meja perundingan tetap membahas isu-isu strategis kawasan, roh dari pertemuan ini adalah silaturahmi. Di balik jabat tangan yang erat, terpancar harapan akan hubungan Indonesia dan Malaysia yang lebih harmonis, stabil, dan saling menguatkan.
Kunjungan PM Anwar kali ini menjadi pengingat lembut bagi kita semua: bahwa di atas segala urusan politik dan dinamika global, kekuatan persahabatan dan ketulusan hati tetaplah menjadi diplomasi yang paling ampuh. Sore itu di Jakarta, Idulfitri benar-benar menjadi perekat bagi dua pemimpin yang berkomitmen menjaga kedamaian di rumah mereka sendiri, Asia Tenggara.