Bagikan:

JAKARTA – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan Ramadan bukan hanya soal ibadah, tetapi juga ruang merawat kebersamaan dan persatuan bangsa. Pesan itu disampaikan saat silaturahmi dan buka puasa bersama keluarga besar Kementerian Kebudayaan di Plaza Insan Berprestasi, Rabu, 11 Maret.

Di hadapan jajaran kementerian, Fadli menyebut tradisi buka puasa bersama atau iftar bukan praktik baru. Ia mengatakan tradisi itu bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang didaftarkan oleh sejumlah negara. Di Indonesia, tradisi serupa sudah lama hidup dalam bentuk silaturahmi, ceramah, lalu ditutup dengan buka puasa bersama.

Menurut Fadli, momentum seperti itu penting untuk menjaga kekompakan di lingkungan kementerian. Ia juga mengingatkan semangat yang sama perlu dijaga dalam merayakan seluruh hari besar keagamaan di Indonesia, baik Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, maupun kepercayaan lain.

Fadli menegaskan keberagaman Indonesia bukan ancaman, melainkan kekuatan. “Kita adalah negara yang memang berbeda-beda tetapi tetap satu. Keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan kekayaan kita. Megadiversity yang kita miliki bukan sesuatu yang mengancam persatuan, justru menjadi binding power dan energizing force yang memperkuat bangsa,” katanya.

Ia lalu menyinggung situasi global yang sedang dipenuhi konflik dan berdampak pada ekonomi dunia. Karena itu, ia menilai Indonesia patut bersyukur tetap berada dalam kondisi aman dan kondusif. Stabilitas dan keharmonisan bangsa, menurutnya, harus terus dijaga, terutama di bulan Ramadan yang lekat dengan silaturahmi dan saling memaafkan menjelang Idulfitri.

Acara itu juga diisi tausiyah sastrawan dan dai Habiburrahman El Shirazy atau Kang Abik. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan keutamaan Lailatul Qadar dan pentingnya memaksimalkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah, doa, dan introspeksi diri.