YOGYAKARTA - Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi resmi ditetapkan sebagai Panglima Tertinggi baru Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menggantikan Mohammad Pakpour yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Informasi penunjukan ini pertama kali mencuat di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan.
IRGC dikenal sebagai pasukan elit yang memegang peran strategis dalam menjaga kelangsungan Republik Islam Iran sekaligus memperluas pengaruh Teheran, baik di tingkat regional maupun internasional. Pergantian kepemimpinan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah operasi serangan terkoordinasi yang disebut mengguncang struktur militer dan politik Iran.
Serangan yang sama tidak hanya disebut menewaskan Pakpour, tetapi juga dilaporkan menyebabkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kabar kematian Khamenei disebut diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump dan kemudian dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran.
Sebagai respons atas peristiwa itu, pemerintah Teheran menyatakan masa berkabung nasional selama 40 hari. Kebijakan tersebut diumumkan sebagai bagian dari langkah negara dalam merespons situasi politik dan keamanan yang memburuk pascaserangan.
Provil Ahmad Vahidi: Rekam Jejak Militer dan Politik
Ahmad Vahidi, yang disebut lahir dengan nama Vahid Shahcheraghi, merupakan figur lama dalam arsitektur pertahanan Iran. Ia dikenal sebagai salah satu pendiri IRGC dan memiliki rekam jejak panjang di dunia militer, sebagaimana dikutip dari Daily Iran News pada Senin (2/3/2026). Pada Desember 2025, ia dilantik sebagai wakil panglima tertinggi IRGC, setelah sebelumnya pernah memegang jabatan Menteri Pertahanan dan Menteri Dalam Negeri Iran.
Di lingkungan IRGC, Vahidi juga pernah memimpin Pasukan Quds, satuan yang menangani operasi militer Iran di luar negeri serta pengelolaan jaringan aliansi bersenjata di kawasan. Perannya disebut terkait dengan pengembangan pendekatan perang asimetris Iran dan penguatan kemitraan regional yang menopang proyeksi kekuatan Teheran.
Dengan penunjukannya sebagai Panglima Tertinggi IRGC, Vahidi kini berada di garis depan dalam mengarahkan respons militer Iran terhadap serangan terbaru. Jabatan ini menempatkannya sebagai aktor utama dalam pengambilan keputusan keamanan pada fase konflik yang sedang meningkat.
BACA JUGA:
Operasi Terbesar
Di tengah transisi kepemimpinan, IRGC menyampaikan peringatan yang bernada keras. Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan media pemerintah, Garda Revolusi menyatakan tengah menyiapkan “operasi ofensif terbesar dan terkuat dalam sejarah Republik Islam” yang ditujukan kepada Israel serta instalasi militer Amerika Serikat di kawasan. Pernyataan itu juga memuat penghormatan kepada Khamenei, yang digambarkan sebagai “cendekiawan saleh, pembawa panji para martir Revolusi Islam, dan wakil sah Imam al-Mahdi.”
Dalam narasi yang sama, IRGC menyebut kematian pemimpin mereka sebagai sebuah “kemartiran yang membanggakan.” Ungkapan tersebut dipakai untuk menegaskan sikap politik dan moral mereka di tengah meningkatnya ketegangan.
Sampai sejauh ini, otoritas Iran belum menyampaikan pengumuman resmi yang merinci proses maupun detail penunjukan Vahidi. Informasi yang beredar masih mengandalkan laporan media dan pernyataan yang dikutip dari kanal resmi.
Meski begitu, di tengah situasi yang kian memanas, pergantian komando ini dipandang sebagai langkah strategis Teheran untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan militer. Penunjukan tersebut juga dinilai ditujukan untuk memastikan kesiapan menghadapi potensi eskalasi lanjutan di Timur Tengah.
Jadi setelah mengetahui profil Ahmad Vahidi, simak berita menarik lainnya di VOI.ID, saatnya merevolusi pemberitaan!