Bagikan:

JAKARTA - Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Muhammad Syaroni Rofii menilai Indonesia perlu mencermati upaya diplomasi terkait isu nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS), yang mulai menunjukkan perkembangan ke arah positif.

"Urusan nuklir Iran-AS kelihatannya mulai menemukan titik temu dengan adanya fasilitasi pembicaraan yang dimediasi oleh Oman. Itu artinya, untuk beberapa waktu krisis militer bisa dicegah dan potensi serangan militer oleh AS tidak menjadi opsi utama," kata Syaroni dilansir ANTARA, Sabtu, 21 Februari.

Syaroni berpendapat konflik atau ketegangan yang melibatkan negara-negara kunci seperti Iran tetap berpotensi menimbulkan dampak luas, termasuk ke RI.

"Iran merupakan salah satu jalur utama strategis suplai minyak global dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, Eropa, dan Asia, terutama melalui Selat Hormuz," katanya.

Ia menjelaskan pengalaman sebelumnya telah menunjukkan peningkatan ketegangan di kawasan dapat mengganggu arus pelayaran dan distribusi minyak dunia, yang pada akhirnya memicu lonjakan harga energi global.

"Tahun lalu kita bisa melihat bagaimana serangan AS ke Iran membuat selat Hormuz terhenti," katanya.

Bagi Indonesia, lanjutnya, situasi di Kawasan Timur Tengah memiliki implikasi langsung karena sebagian impor minyak dan gas nasional masih bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.

"Jika terjadi gangguan suplai, harga akan meningkat dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap APBN Indonesia," katanya.

Karenanya, meski diplomasi Iran-AS saat ini dinilai membawa angin segar bagi stabilitas kawasan, pemerintah Indonesia tetap perlu mencermati perkembangan geopolitik global serta menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan energi.