JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto merespons kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memaparkan data capaian dan alasan kebijakan. Ia menyebut sejak awal peluncuran, program tersebut mendapat ejekan dan dinilai akan gagal, termasuk dari kalangan terdidik.
“Waktu saya melancarkan program ini, saya diejek… mereka meramalkan proyek ini pasti gagal,” kata Prabowo saat menghadiri groundbreaking dan peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta gudang ketahanan pangan Polri di Palmerah, Jakarta Barat, Jumat, 13 Februari.
Menurut Prabowo, program MBG dibutuhkan mayoritas masyarakat, khususnya keluarga dengan kondisi ekonomi rentan. Ia menyinggung angka stunting yang pernah berada di kisaran 25 persen dan menilai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan teori atau slogan, melainkan melalui intervensi langsung pemerintah sebagaimana dilakukan di berbagai negara.
Presiden juga memaparkan perkembangan pelaksanaan program. Ia menyatakan jumlah penerima manfaat telah mencapai 60,2 juta orang. Sementara itu, jumlah dapur layanan atau SPPG disebut telah mencapai 22.275 unit dan mendekati 23.000 unit yang tersebar di 38 provinsi.
Pendanaan program, lanjut Prabowo, berasal dari efisiensi anggaran negara, termasuk pengalihan dana dari kegiatan rapat, seminar, konferensi, serta aktivitas lain yang dinilai kurang produktif.
BACA JUGA:
Di sisi lain, Prabowo mengakui adanya laporan gangguan kesehatan pada sebagian penerima manfaat. Ia menyebut menerima informasi sekitar 28.000 orang mengalami keluhan seperti keracunan atau sakit perut, namun meminta data tersebut diverifikasi kembali.
“Ada laporan 28.000 yang mengalami gangguan, kalau tidak salah. Tolong diverifikasi,” ujarnya.
Meski demikian, ia menyatakan angka tersebut setara sekitar 0,0006 dari total penerima dan menyimpulkan tingkat keberhasilan program berada di kisaran 99,99 persen.