JAKARTA — “Kami mendukung rencana peringatan 100 tahun Jam Gadang.” Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon itu menjadi sinyal bahwa perayaan satu abad Jam Gadang pada Juni 2026 tak akan berhenti sebagai agenda kota, tetapi diarahkan menjadi panggung pemajuan kebudayaan sekaligus penguatan narasi sejarah nasional.
Dukungan itu disampaikan Fadli Zon saat menerima Wali Kota Bukittinggi Muhammad Ramlan Nurmatias dan jajaran di kantor Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Selasa (10/2). Dalam pertemuan itu, Pemkot memaparkan rangkaian kegiatan edukatif, kultural, dan seni—termasuk seminar nasional dan internasional yang akan dibukukan sebagai rujukan pengembangan Jam Gadang.
Ramlan menegaskan Jam Gadang tetap berdiri kokoh tanpa pergeseran, yang disebutnya sebagai bukti nilai arsitektur dan keteknikan tinggi. Pemkot juga sudah meluncurkan logo “Satu Abad Jam Gadang” dan menyiapkan agenda lintas disiplin yang melibatkan ilmuwan, budayawan, seniman, arsitek, hingga insinyur sipil. Mereka juga merencanakan komunikasi dengan duta besar Belanda dan Jerman sebagai calon pembicara, mengingat Jam Gadang dibangun pada masa kolonial dan menggunakan mesin jam buatan Jerman yang masih berfungsi.
Selain perayaan, Ramlan mendorong penguatan identitas Bukittinggi sebagai kota perjuangan. Ia menyebut Bukittinggi pernah menjadi pusat pemerintahan dalam beberapa periode—termasuk pernah menjadi ibu kota berbagai wilayah—serta menjadi salah satu dari tiga daerah penerima duplikat Bendera Pusaka.
BACA JUGA:
Fadli menyatakan peringatan satu abad Jam Gadang sejalan dengan pemajuan kebudayaan, apalagi Jam Gadang telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional pada akhir 2025. Menbud juga mendorong agar Pemkot Bukittinggi membangun kolaborasi dengan swasta, filantropis, serta anggota DPR dari dapil Sumbar agar dukungan mudah dihimpun dan acara berjalan optimal.
Pertemuan tersebut dihadiri Sekda Bukittinggi Rismal Hadi. Dari Kemenbud, hadir antara lain Dirjen Restu Gunawan, Staf Ahli Ismunandar, Direktur Undri, dan Direktur Saefullah.