JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menilai Israel telah melakukan doktrin dominasi dengan terus memperluas cengkeraman militernya lewat serangan ke negara-negara tetangganya sembari mengancam agar lawannya melucuti senjata.
Hal ini disampaikan Araghchi satu hari setelah putaran terbaru perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dimulai sejak sejak Jumat pagi.
“Proyek ekspansionis Israel mengharuskan negara-negara tetangga dilemahkan: secara militer, teknologi, ekonomi, dan sosial,” kata Araghchi saat menghadiri edisi ke-17 Forum Al Jazeera di Doha, ibu kota Qatar, Sabtu, dikutip dari AFP.
Menurut Araghchi, Israel terus menekan negara lain melalui ancaman atau militer dengan tujuan memegang kendali. Di satu sisi, negara-negara lain tidak mendapatkan persamaan hak seperti yang bisa dilakukan Israel.
“Di bawah proyek ini, Israel bebas untuk memperluas persenjataan militernya tanpa batas... Namun negara-negara lain dituntut untuk melucuti senjata. Negara-negara lain ditekan untuk mengurangi kapasitas pertahanan. Negara-negara lain dihukum karena kemajuan ilmiah,” tambahnya.
“Ini adalah doktrin dominasi,” tegas Araghchi.
BACA JUGA:
Putaran terbaru perundingan nuklir di Muscat, Oman ini, terjadi setelah tensi panas antara Iran dan AS beberapa pekan diikuti ancaman Presiden Donald Trump yang mengerahkan militer AS, termasuk kapal induk, mendekati wilayah Iran.
Dalam perundingan itu, AS berupaya untuk membahas program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan di wilayah tersebut — isu-isu yang didorong Israel masuk dalam pembicaraan di agena tersebut.
Diskusi nuklir antara AS-Iran sebelumnya tercatat pernah gagal akibat Israel melancarkan kampanye pengeboman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran pada Juni 2025 berujung perang selama 12 hari.