JAKARTA — Wali Kota Banjarbaru Erna Lisa Halaby membawa daftar pekerjaan rumah kebudayaan ke Jakarta. Dalam pertemuan dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jumat, 6 Februari, ia meminta dukungan penguatan cagar budaya dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Erna Lisa menekankan pelestarian situs cagar budaya harus dipercepat agar tidak hilang, termasuk penataan kawasan bersejarah yang dinilai memiliki nilai penting. Ia juga mendorong penguatan kampung budaya dan kampung kreatif, serta pemberdayaan pelaku seni-budaya hingga tingkat kelurahan. Selain itu, Banjarbaru menargetkan pelestarian warisan budaya takbenda dan pengemasan agenda budaya yang lebih terintegrasi agar regenerasi budaya lokal berjalan dan para budayawan punya ruang hidup.
Salah satu gagasan yang disorongkan ialah living museum atau museum terbuka untuk memperkuat daya tarik wisata budaya. Erna Lisa menyebut konsep ini membutuhkan revitalisasi cagar budaya secara prioritas.
BACA JUGA:
Fadli Zon merespons dengan membuka pintu dukungan, terutama untuk konsep museum terbuka. “Kami tentu terus mendukung, apalagi terkait gagasan pendirian open living museum. Pada prinsipnya, museum tidak harus selalu disekat oleh tembok, tetapi bisa juga berbentuk ruang terbuka atau open air,” kata Fadli. Ia menegaskan penataan dan konsep pameran tetap krusial agar narasi kebudayaan tersampaikan utuh dan menarik.
Fadli menambahkan kebudayaan juga mencakup kearifan teknologi tradisional dan lokal yang hidup di masyarakat. Karena itu, pengembangan museum dan kawasan budaya diharapkan menyatu dengan tradisi dan kehidupan warga. “Kita bisa bekerja sama, konsep revitalisasinya akan dikolaborasikan dengan instansi terkait, tentu dengan melihat kesesuaiannya dengan tugas dan fungsi pemajuan kebudayaan,” ujarnya.
Dalam pertemuan itu, Erna Lisa didampingi Ketua Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru Riandy Hidayat. Dari pihak kementerian hadir antara lain Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, Staf Khusus Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Annisa Rengganis, serta Direktur Pengembangan Budaya Digital Andi Syamsu Rijal.