JAKARTA - Kasus siswa miskin di NTT yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu beli buku dan pena menjadi alarm bagi sistem perlindungan sosial.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan penguatan pendampingan dan pembenahan data kemiskinan harus dipercepat agar tak ada keluarga rentan yang luput dari jangkauan bantuan.
Perbaikan data ini, katanya, menjadi kunci sebelum 30.000 kursi Sekolah Rakyat dibuka tahun ini.
Pemerintah, dikatakan Gus Ipul, mulai menutup celah praktik titipan dalam program Sekolah Rakyat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan seleksi 30.000 siswa tahun ini hanya menyasar keluarga termiskin berbasis data, bukan rekomendasi informal.
Program ini menunggu penyelesaian gedung permanen yang dikerjakan Kementerian PUPR. Setiap lokasi akan menampung 300 siswa: 100 SD, 100 SMP, 100 SMA. Mensos menyebut proses seleksi melibatkan Dinsos, Dikdasmen, dan BPS untuk menjangkau Desil 1 dan 2. Penetapan akhir dilakukan kepala daerah.
“Tim seleksi tidak boleh main-main, tidak ada titipan, tidak ada suap,” kata Gus Ipul di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, 3 Februari.
Ia menekankan arahan Presiden agar program tepat sasaran.
Di sisi lain, pemerintah menyiapkan makan bergizi gratis (MBG) untuk lansia di atas 75 tahun yang hidup sendiri, serta penyandang disabilitas. Program dilayani dapur BGN, dengan data dari Kemensos yang disahkan kepala daerah.
Anggaran MBG disatukan di BGN, sementara Kemensos menyiapkan pengantar dan pendamping, termasuk caregiver terlatih.