Bagikan:

JAKARTA - Tidak akan ada perdamaian di Sudan sampai Pasukan Pendukung Cepat (RSF) dilenyapkan, kata Ketua Dewan Kedaulatan Transisi Sudan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, pada Hari Minggu.

Di bawah komandonya, militer Sudah diketahui telah memerangi kelompok paramiliter RSF sejak tahun 2023.

Berbicara kepada wartawan di kediamannya di Port Sudan, Burhan mengatakan: "Tidak akan ada perdamaian sampai RSF dilenyapkan, dan setiap usulan solusi yang mencakup RSF hanyalah menunda krisis. Solusi yang langgeng adalah melenyapkan RSF," seperti dikutip dari Anadolu (26/1).

"Ini tidak berarti mereka semua harus mati; itu juga bisa berarti meletakkan senjata mereka dan menyerah," tandasnya.

Jenderal Burhan menggarisbawahi konflik tersebut telah menyebabkan kehancuran yang meluas, mengakibatkan banyak korban sipil dan kerusakan material yang luas di seluruh negeri.

Ia mengatakan, tidak ada warga Sudan yang tidak terpengaruh oleh perang tersebut dan bahwa masyarakat tetap bersatu melawan kelompok pemberontak tersebut.

Menanggapi upaya internasional untuk menengahi gencatan senjata, Jenderal Burhan menunjuk pada meningkatnya seruan untuk gencatan senjata setelah jatuhnya El Fasher pada Bulan Oktober, mengatakan hal itu bertepatan dengan upaya untuk memungkinkan kelompok tersebut memperluas kendali teritorialnya.

"Tidak ada usulan gencatan senjata selama pengepungan El Fasher," katanya.

"Setelah jatuhnya, seruan meningkat karena mereka ingin RSF mengendalikan lebih banyak wilayah," tandasnya.

Jenderal Burhan mengatakan, Sudan mengusulkan Turki atau Qatar sebagai mediator, tetapi RSF menolak gagasan tersebut. Ia menambahkan, negara-negara regional seperti Arab Saudi dan Mesir juga dapat memainkan peran.

"Kami percaya kepada Tuhan terlebih dahulu, kemudian kepada (Presiden Turki Recep Tayyip) Erdogan," katanya.

Ia juga menekankan, RSF dan tentara Sudan bukanlah kekuatan yang setara.

"Kedua pihak yang bertempur di sini tidak setara. RSF tidak setara dengan tentara Sudan. Seluruh dunia mengatakan ini," jelasnya.

Meskipun ada resolusi PBB, lanjutnya, RSF terus melakukan serangan dan menyelundupkan senjata ke Sudan, khususnya ke wilayah Darfur, tanpa menghadapi tindakan efektif.

"Kami, sebagai rakyat Sudan dan tentara, bertekad untuk melenyapkan RSF," tegasnya.

"Kami terbuka untuk semua solusi damai," tambah Jenderal Burhan.

Diketahui, Sudan telah dilanda pertempuran sejak April 2023 antara tentara negara itu dengan RSF atas perselisihan terkait penyatuan militer.

Konflik tersebut telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan puluhan ribu orang tewas dan sekitar jutaan orang mengungsi.