JAKARTA - Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara menyebutkan bau tidak sedap di RefuseDerivedFuel(RDF) PlantRorotan, Cilincing, karenatercampurnya sampah organik dengan anorganik.
Kasudin Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edi Mulyanto meminta masyarakat untuk memilah terlebih dahulu jenis-jenis sampah rumah tangga yang akan dibuang.
"Biar tidak bau, harus di pilah. Sampah kita dari rumah tangga itu harus di pilah. Kalau sampah anorganik doang yang ke RDF saya yakin tidak akan ada bau, tapi kalau tercampur dengan organik, sehari aja pasti akan bau," ujar Edi dilansir ANTARA, Jumat, 24 Januari.
Edi menuturkan, komposisi sampah anorganik di wilayah Jakarta Utara lebih banyak dibandingkan dengan sampah organik.
"Dulu sebelum pandemi COVID-19, sampah organiknya lebih banyak, tetapi setelah pandemi malah kebanyakan sampah yang anorganik," kata Edy.
Menurut dia, pola konsumsi masyarakat berubah setelah pandemi COVID-19, di mana sebelumnyakomposisi sampah organik 60 persen dan anorganik 40 persen.
"Sekarang apa-apa kan pesan lewat online, pakai kemasan. Paling isinya makanannya kecil. Jadi sekarang di Jakarta Utara sampah anorganiknya lebih banyak sekitar 51 persen dan organiknya 49 persen," ujar Edy.
Karena itu, pihaknya memberi solusi melalui bank sampah yang ada di wilayah setempat."Untuk residunya dari anorganik akan di dorong ke pabrik RDF yang ada di Rorotan Cilincing untuk pengganti batu bara," kata dia.
"Ternyata efektivitasnya itu cukup tinggi dan ada nilai cuan (keuntungan ekonomi) yang bisa dijadikan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kalau sudah dijual bisa kerja sama dengan pabrik semen," ucap Edi.
Adapun pabrik semen membutuhkan 8.000 ton sampah RDF dalam sehari."Satu ton itu bisa dihargai Rp400 ribu. Mudah-mudahan masyarakat kita bisa melihat, jangan cuma demo-demo terus di RDF," ujarnya.