Bagikan:

JAKARTA - Seorang bayi Palestina meninggal karena hipotermia di Jalur Gaza, Palestina pada Hari Selasa, menyoroti kondisi kemanusiaan yang mengerikan di wilayah yang hancur tersebut.

Keluarga Shaza Abu Jarad menemukan bayi berusia tiga bulan itu pada Selasa pagi di tenda mereka di lingkungan Daraj, Kota Gaza.

"Dia kedinginan, dan meninggal," kata ayah bayi itu, Mohamed Abu Jarad, kepada Associated Press melalui telepon setelah pemakaman, seperti dikutip dari Daily Sabah (21/1).

"Dia meninggal karena kedinginan," getirnya.

Mohamed, yang bekerja di Israel sebelum perang, tinggal bersama istri dan tujuh anak mereka lainnya di tenda darurat setelah rumah mereka hancur akibat bombardir Israel.

Keluarga membawa bayi perempuan itu ke rumah sakit Al-Ahly, di mana seorang dokter menyatakan dia meninggal karena hipotermia, kata pamannya, Khalid Abu Jarad.

Sedangkan Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi bayi tersebut meninggal karena hipotermia.

Keluarga Mohamed termasuk di antara ratusan ribu orang yang berlindung di kamp-kamp tenda dan bangunan-bangunan yang hancur akibat perang di Gaza, yang mengalami musim dingin yang dingin dan basah, dengan suhu turun di bawah 10 derajat Celcius (50 Fahrenheit) pada malam hari.

Shaza Abu Jarad adalah anak kesembilan yang meninggal karena kedinginan parah musim dingin ini di Gaza, menurut kementerian kesehatan wilayah tersebut.

Lebih dari 100 anak telah meninggal sejak dimulainya gencatan senjata pada Bulan Oktober 2025, termasuk seorang bayi perempuan berusia 27 hari yang meninggal karena hipotermia pada akhir pekan.

Gencatan senjata menghentikan perang genosida Israel di Gaza selama dua tahun dan memungkinkan peningkatan bantuan kemanusiaan ke Gaza, terutama makanan.

Namun, penduduk mengatakan kekurangan selimut dan pakaian hangat masih terjadi, dan kayu untuk api unggun sangat sedikit. Tidak ada aliran listrik pusat di Gaza sejak beberapa hari pertama perang pada tahun 2023, dan bahan bakar untuk generator langka.

Komite Internasional Palang Merah mengatakan cuaca dingin dan hujan lebat baru-baru ini di Gaza "pada akhirnya merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup."