Bagikan:

JAKARTA - Rusia ingin mengklarifikasi konsep "Dewan Perdamaian" yang diusulkan Amerika Serikat, kata Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov dalam konferensi pers yang merangkum aktivitas diplomatik Rusia pada tahun 2025.

Menurutnya, Moskow menerima "dokumen aneh yang disebut 'piagam' 'Dewan Perdamaian'," yang awalnya dimaksudkan untuk menangani masalah di Jalur Gaza Palestina.

"Dewan ini dimaksudkan tidak hanya untuk menangani Jalur Gaza, yang menurut saya hampir tidak disebutkan, tetapi juga untuk secara luas membantu menyelesaikan konflik di seluruh dunia," kata diplomat itu menjelaskan isi "piagam" tersebut, melansir TASS (20/1).

"Kami tentu ingin mengklarifikasi visi konseptual dan praktis AS tentang inisiatif ini," lanjutnya.

"Saat ini kami sedang mencoba untuk mengklarifikasi masalah ini, dan akan terus berkomunikasi (mengenai hal tersebut)," tandas Menlu Lavrov.

Diplomat senior Rusia itu menekankan, "ketika membahas masalah Timur Tengah, terutama yang berkaitan dengan Jalur Gaza," seseorang tidak dapat mendekati masalah tersebut selain "dari posisi yang telah berulang kali dikonfirmasi oleh seluruh komunitas internasional," yaitu perlunya Palestina yang merdeka.

"Ketika inisiatif Amerika Serikat dipertimbangkan oleh PBB pada musim gugur, kami meragukan perlunya format tambahan apa pun di luar yang tercantum dalam keputusan AS," jelas Menlu Lavrov, menambahkan "pada dasarnya hal itu bermuara pada implementasi keputusan-keputusan ini, dan pembentukan negara Palestina."

Namun, ia menjelaskan bahwa Washington "tidak ingin merujuk pada keputusan PBB," sehingga Rusia dan China dibujuk oleh negara-negara Arab, serta Palestina sendiri, "untuk tidak menghalangi" resolusi tentang "Dewan Perdamaian."

Menurut diplomat tersebut, Moskow dan Beijing memutuskan untuk "memberi kesempatan pada inisiatif ini."

"Inilah konteks tepatnya di mana kami saat ini sedang meninjau undangan yang telah kami terima," pungkas Lavrov.

Diberitakan sebelumnya, Kremlin pada Hari Senin mengatakan Presiden Rusia telah menerima tawaran tersebut. Baik Moskow maupun Presiden Trump belum mengatakan apakah Putin telah menerimanya.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow "saat ini sedang mempelajari semua detail tawaran ini".

"Kami berharap dapat berhubungan dengan AS untuk mengklarifikasi semua aspeknya," katanya.

Kemudian, Presiden Trump mengonfirmasi telah mengundang Presiden Putin untuk bergabung dalam dewan yang merupakan bagian dari rencana 20 poin Trump untuk mengakhiri perang Israel-Hamas dan diharapkan untuk sementara mengawasi pengelolaan Gaza dan mengelola rekonstruksinya.

Ditanya pada Hari Senin apakah Ia telah mengundang Presiden Putin untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian, Presiden Trump mengatakan kepada wartawan di Florida: "Ya mereka adalah para pemimpin dunia. Jawabannya adalah ya, saya telah mengundangnya," katanya, dikutip dari BBC.

Washington diketahui telah mengundang berbagai pemimpin dunia untuk duduk di dewan tersebut. Dewan Perdamaian akan terdiri dari para pemimpin dunia, dengan Presiden Trump sebagai ketuanya, menurut Gedung Putih. Kendati, struktur dewan tersebut masih belum jelas dan anggota masih diundang.