JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum Uganda resmi mengumumkan Presiden Yoweri Museveni sebagai pemenang dalam pemilihan umum yang digelar Kamis lalu. Museveni, yang kini berusia 81 tahun, berhasil meraih 72 persen suara, mengungguli rival terdekatnya, Bobi Wine, yang memperoleh 25 persen suara. Kemenangan ini memperpanjang masa kepemimpinan Museveni selama lima tahun ke depan, menjadikannya salah satu pemimpin terlama di Afrika sejak pertama kali berkuasa sebagai pemimpin pemberontak pada tahun 1986.
Namun, mengutip laporan BBC, Sabtu, 17 Januari, hasil pemilu ini menuai kecaman keras dari Bobi Wine. Mantan bintang pop berusia 43 tahun tersebut menuding adanya kecurangan masif, termasuk "surat suara palsu" dan penggelembungan suara. Meskipun pengamat dari Uni Afrika menyatakan tidak menemukan bukti nyata atas penggelembungan surat suara tersebut, Wine tetap menolak hasil pemilu dan menyerukan aksi protes tanpa kekerasan kepada para pendukungnya di seluruh penjuru negeri.
BACA JUGA:
Proses pemilu kali ini juga diwarnai oleh gelombang kekerasan dan pemadaman akses internet yang dimulai sejak Selasa lalu. Wine mengklaim sedikitnya 21 orang tewas dalam kerusuhan beberapa hari terakhir, meski pihak berwenang hanya mengonfirmasi tujuh kematian. Pemerintah berdalih bahwa pemutusan internet diperlukan untuk mencegah penyebaran misinformasi dan hasutan kekerasan, sebuah langkah yang dikritik tajam oleh kantor hak asasi manusia PBB dan misi pengamat Uni Afrika.
Ketegangan semakin meningkat setelah muncul laporan mengenai intimidasi terhadap pihak oposisi. Bobi Wine sempat menyatakan dirinya berada dalam tahanan rumah dan mengklaim telah menghindari penggerebekan pasukan keamanan di kediamannya di Kampala. Pihak kepolisian membantah penculikan tersebut, namun mengakui adanya pembatasan akses di sekitar rumah Wine dengan alasan area tersebut merupakan titik panas keamanan yang berpotensi memicu kekacauan.
Pemilu ini mencerminkan keterbelahan antara stabilitas dan perubahan di Uganda. Museveni memposisikan dirinya sebagai penjamin stabilitas negara, sementara Wine hadir membawa aspirasi kaum muda—yang merupakan mayoritas populasi Uganda—dengan janji reformasi total dan pemberantasan korupsi. Meski terdapat enam kandidat lainnya, tidak ada yang berhasil meraih lebih dari 2 persen suara, dengan tingkat partisipasi pemilih tercatat sebesar 52,5 persen.