Bagikan:

JAKARTA - Utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Hari Rabu mengumumkan dimulainya fase kedua rencana gencatan senjata Gaza, mengatakan fokus akan bergeser ke demiliterisasi, pemerintahan teknokratis, dan rekonstruksi.

"Fase Kedua membentuk pemerintahan transisi teknokratis Palestina di Gaza, Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG), dan memulai demiliterisasi dan rekonstruksi Gaza secara penuh, terutama pelucutan senjata semua personel yang tidak berwenang," cuit Steve Witkoff dalam sebuah pernyataan di platform media sosial X, dilansir dari Anadolu (15/1).

Lebih jauh Witkoff mengatakan AS mengharapkan kelompok Palestina Hamas untuk sepenuhnya mematuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian tersebut, termasuk "pemulangan segera sandera terakhir yang meninggal."

"Kegagalan untuk melakukannya akan membawa konsekuensi serius," jelas Witkoff.

Witkoff juga berterima kasih kepada Turki, Mesir dan Qatar "atas upaya mediasi mereka yang sangat penting yang memungkinkan semua kemajuan hingga saat ini."

Terpisah, kelompok-kelompok Palestina pada Rabu pagi menyatakan dukungan untuk pembentukan badan administratif transisi untuk Gaza, mendesak langkah-langkah cepat agar badan tersebut dapat segera mengambil alih tanggung jawab pemerintahan di wilayah tersebut.

Sikap tersebut diumumkan dalam pernyataan bersama setelah pertemuan di Kairo yang diadakan atas undangan Mesir dan di bawah naungan Presiden Abdel Fattah al-Sisi, menurut kantor berita pemerintah Mesir, Al-Qahera News.

Menurut pernyataan itu, kelompok-kelompok tersebut menekankan perlunya menciptakan kondisi yang sesuai agar badan transisi dapat segera mengambil alih tanggung jawab penuh untuk mengelola kehidupan sehari-hari di Gaza, termasuk layanan publik yang penting.

Mereka mengatakan badan tersebut akan bekerja sama dengan "dewan perdamaian" dan komite eksekutifnya, yang diharapkan akan mengawasi persetujuan dan implementasi proses rekonstruksi Gaza.

Terpisah, media Palestina WAFA melaporkan Hari Rabu, korban tewas akibat agresi Israel pada Oktober 2023 lalu telah mencapai 71.439 jiwa, sementara korban luka-luka mencapai 171.324 orang.

Sumber medis mengatakan, sejak kesepakatan gencatan senjata 10 Oktober, korban tewas Palestina telah mencapai 449 jiwa, 1.246 orang terluka dan 710 jenazah telah ditemukan. Israel diketahui tetap melakukan serangan ke Gaza di tengah gencatan senjata, mengklaim menargetkan kelompok militan Palestina.