Bagikan:

JAKARTA - Amerika Serikat perlu mengendalikan Greenland yang dimiliki Denmark "untuk pertahanan," kata Presiden Donald Trump kepada The Atlantic dalam sebuah wawancara.

"Tetapi kita memang membutuhkan Greenland, tentu saja. Kita membutuhkannya untuk pertahanan," jelasnya, dikutip dari TASS (5/1).

Menurut Presiden Trump, Greenland "dikelilingi oleh kapal-kapal Rusia dan Tiongkok."

Pernyataan terbaru ini mengulangi kata-katanya bulan lalu, ketika Ia mengatakan Negeri Paman Sam membutuhkan Greenland, menepis tujuan untuk menguasai mineralnya.

"Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Bukan untuk mineral. Kita memiliki begitu banyak lokasi untuk mineral dan minyak. Kita memiliki lebih banyak minyak daripada negara lain di dunia. Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional," kata Presiden Trump kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago dekat West Palm Beach, Florida.

"Dan jika Anda melihat Greenland, Anda melihat ke atas dan ke bawah pantai, Anda akan melihat kapal-kapal Rusia dan Tiongkok di mana-mana. Kita membutuhkannya untuk keamanan nasional. Kita harus memilikinya," tegasnya.

Namun, ia mengecam peran Denmark dalam urusan pulau tersebut. Presiden Trump menyatakan pendapat, Kopenhagen tidak mengalokasikan dana yang diperlukan untuk tujuan ini dan tidak memberikan "perlindungan militer" untuk Greenland.

"Mereka bilang Denmark pernah ke sana 300 tahun yang lalu atau lebih dengan perahu. Yah, kita juga pernah ke sana dengan perahu, saya yakin. Jadi, kita harus menyelesaikan semuanya," kata Presiden Trump, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Bulan lalu, Presiden Trump menunjuk Gubernur Negara Bagian Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus Amerika Serikat untuk Greenland, dikutip dari Anadolu.

Presiden Trump diketahui berulang kali menyatakan Greenland, wilayah otonom di dalam Denmark, harus bergabung dengan Amerika Serikat. Ia sebelumnya menggambarkan kepemilikan Greenland sebagai "kebutuhan mutlak" untuk keamanan ekonomi AS, membandingkan akuisisi tersebut dengan "kesepakatan real estat besar."

Namun, baik Denmark maupun Greenland telah menolak proposal apa pun untuk menjual wilayah tersebut, dengan pemerintah Denmark menegaskan kedaulatannya yang berkelanjutan atas pulau tersebut.

Kemerdekaan pulau itu menjadi isu utama dalam pemilihan parlemen Greenland pada Maret tahun ini. Jajak pendapat menunjukkan mayoritas penduduk Greenland menginginkannya, tetapi mereka belum memutuskan kapan dan bagaimana pemisahan diri akan terjadi.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan pada Bulan Januari menunjukkan hanya 6 persen dari populasi yang mendukung bergabung dengan Amerika Serikat.

Pada Bulan Mei, dalam sebuah wawancara dengan NBC News, Presiden AS tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk menyelesaikan masalah Greenland. Meski, sebelumnya Wakil Presiden AS J.D. Vance meyakinkan pada akhir Maret, Pemerintah AS mengharapkan Greenland untuk memperoleh kemerdekaan dan bergabung dengan Amerika Serikat secara damai, dengan Washington tidak mengancam akan menggunakan kekuatan militer.

Greenland adalah wilayah otonom Denmark. Pada tahun 1951, Washington dan Kopenhagen, selain komitmen sekutu mereka terhadap NATO, menandatangani Perjanjian Pertahanan Greenland. Menurut perjanjian tersebut, Amerika Serikat berkomitmen untuk membela pulau itu dari agresi.