Bagikan:

JAKARTA – Situasi di sepanjang perbatasan Kamboja–Thailand dilaporkan tetap tenang untuk hari kedua berturut-turut pada Minggu, 28 Desember, menyusul kesepakatan gencatan senjata yang dicapai kedua negara setelah hampir tiga pekan bentrokan mematikan.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja Letnan Jenderal Maly Socheata mengatakan kondisi di garis depan masih stabil sejak Sabtu siang, saat gencatan senjata resmi mulai diberlakukan.

“Situasi di wilayah perbatasan tetap tenang dan terkendali sejak gencatan senjata mulai berlaku,” ujar Maly Socheata kepada pers, seperti dilaporkan kantor berita resmi Agence Kampuchea Presse dikutip Minggu, 28 Desember.

Militer Thailand juga mengonfirmasi meredanya kekerasan di wilayah perbatasan. Namun, menurut laporan media Thailand Khaosod, masih terpantau adanya pergerakan terbatas di sejumlah titik.

Kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Sabtu tersebut mengakhiri hampir 20 hari bentrokan bersenjata antara kedua negara.

Konflik itu menewaskan puluhan orang dan memaksa hampir satu juta warga sipil mengungsi dari kawasan perbatasan yang disengketakan.

Dalam perjanjian gencatan senjata, Kamboja dan Thailand sepakat menghentikan seluruh aksi permusuhan dengan menggunakan senjata apa pun.

Kedua pihak juga berkomitmen menghindari tembakan tanpa provokasi, pergerakan pasukan, maupun manuver militer menuju posisi lawan.

Selain itu, kedua negara sepakat mempertahankan jumlah pasukan yang ada dan tidak mengirimkan bala bantuan tambahan ke wilayah perbatasan guna mencegah eskalasi konflik.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Thailand menyatakan akan memulangkan 18 tentara Kamboja yang ditahan sejak Juli lalu, setelah gencatan senjata berjalan penuh selama 72 jam tanpa pelanggaran.

Para menteri luar negeri Kamboja dan Thailand dijadwalkan bertemu pada Senin dalam pertemuan trilateral yang difasilitasi China di Provinsi Yunnan, China barat daya. Pertemuan itu akan membahas langkah lanjutan pascagencatan senjata.

Selama hampir 20 hari bentrokan sejak konflik kembali pecah pada 8 Desember, sekitar 99 orang dilaporkan tewas. Konflik tersebut bermula sehari setelah insiden perbatasan yang melukai dua tentara Thailand.

Otoritas Thailand mencatat sebanyak 26 prajurit dan satu warga sipil Thailand tewas dalam konflik tersebut. Selain itu, 41 warga sipil lainnya meninggal dunia akibat dampak tidak langsung dari pertempuran.

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Kamboja melaporkan sedikitnya 31 warga sipil Kamboja turut menjadi korban jiwa.

Thailand dan Kamboja diketahui memiliki sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama dan kerap memicu kekerasan. Bentrokan besar terakhir terjadi pada Juli lalu dan menewaskan sedikitnya 48 orang.