JAKARTA – TNI membantah informasi dalam video yang beredar di media sosial yang menyebutkan kotak logistik bantuan untuk korban bencana yang diterjunkan dari pesawat dengan metode helibox dalam kondisi kosong.
Komandan Batalyon Perbekalan Angkutan 5 ARY Letkol CBA Supriyanto mengatakan, penerjunan logistik menggunakan metode helibox telah dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku dan tidak mungkin dilakukan dalam keadaan tanpa muatan.
“Setiap helibox yang diterjunkan telah melalui inspeksi setelah diisi, diperiksa oleh anggota, dan disaksikan perwira. Sehingga tidak mungkin helibox kosong ikut diterjunkan,” kata Supriyanto dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Antara, Selasa, 23 Desember.
Tinggi helibox sekitar 73 sentimeter, sementara muatan logistik di dalamnya berada di kisaran 30 sentimeter. Kondisi tersebut menyebabkan terbentuknya rongga kosong di bagian atas sekitar 35 hingga 37 sentimeter.
“Secara kasat mata memang terlihat seolah kosong, padahal logistik sudah terikat dan terpatri di bagian dalam helibox,” ujarnya.
Supriyanto menambahkan, batas maksimal berat helibox adalah lima kilogram. Jika diisi penuh hingga ke atas, beratnya dapat mencapai sembilan kilogram dan berisiko mengalami kerusakan saat proses airdrop.
“Karena itu muatan tidak diisi sampai penuh ke atas. Inilah yang sering menimbulkan salah sangka di masyarakat,” jelasnya.
Ia berharap klarifikasi tersebut dapat meluruskan informasi yang keliru dan mencegah kesalahpahaman publik terkait penyaluran bantuan melalui udara.
BACA JUGA:
“Mudah-mudahan ini memberi pemahaman kepada kita semua, sehingga tidak terjadi salah tafsir atau sangkaan yang menyimpang dari kenyataan,” kata Supriyanto.