Bagikan:

JAKARTA - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan harapan agar pertemuan khusus para menteri luar negeri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang digelar di Malaysia dapat mengakhiri konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja.

Anwar yang menjabat sebagai ketua bergilir ASEAN berharap pertemuan tersebut dapat menjadi wadah yang konstruktif bagi kedua negara untuk terlibat dalam dialog terbuka.

Ia menekankan pentingnya penyelesaian konflik secara damai demi stabilitas kawasan Asia Tenggara.

“Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi platform yang tepat dan konstruktif bagi kedua negara untuk terlibat dalam negosiasi terbuka, menyelesaikan perbedaan secara damai, serta mencapai solusi yang adil dan berkelanjutan,” ujar Anwar dalam pernyataannya, dikutip via Antara, Senin, 22 Desember.

Para menteri luar negeri ASEAN dijadwalkan berkumpul di Malaysia pada Senin, 22 Desember untuk membahas konflik yang kembali memanas di perbatasan Thailand dan Kamboja, yang dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 40 orang.

Thailand dan Kamboja menghadiri pertemuan tersebut setelah Anwar mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan komunikasi langsung dengan mitra dari kedua negara, yakni Wakil Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet.

Ketegangan kembali meningkat setelah Bangkok menangguhkan perjanjian damai yang ditandatangani Phnom Penh pada Oktober lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya dimediasi oleh Anwar bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyusul insiden ranjau darat yang melukai sejumlah tentara Thailand dan dituding dipasang oleh pihak Kamboja.

Konflik perbatasan kedua negara telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Pada Mei lalu, seorang tentara Kamboja dilaporkan tewas akibat tembakan pasukan Thailand. Bentrokan lanjutan yang terjadi pada Juli kembali menewaskan puluhan orang.

Pada akhir Juli, kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata dan menandatangani kesepakatan damai yang kemudian diperpanjang pada Oktober. Namun, eskalasi ketegangan di sepanjang perbatasan terus berlanjut dan menyebabkan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi dari wilayah konflik.