Bagikan:

JAKARTA - Otoritas Denmark menuding Rusia melakukan serangan siber terhadap infrastruktur dan situs web di Denmark pada tahun 2024 dan 2025.

Dinas Intelijen Pertahanan Denmark mengatakan Moskow bertanggung jawab atas serangan siber yang "merusak dan mengganggu" terhadap perusahaan utilitas air Denmark pada tahun 2024 dan serangkaian serangan penolakan layanan yang membanjiri situs web Denmark menjelang pemilihan regional dan lokal bulan lalu.

Dinas intelijen mengatakan serangan tersebut merupakan bagian dari "perang hibrida" Rusia melawan Barat dan upaya untuk menciptakan ketidakstabilan.

Serangan siber Moskow disebut bagian dari operasi yang lebih luas untuk melemahkan dan menghukum negara-negara yang mendukung Ukraina.

Serangan-serangan tersebut termasuk di antara sejumlah insiden yang semakin meningkat yang menurut para pejabat Barat merupakan bagian dari kampanye sabotase dan gangguan di seluruh Eropa yang didalangi oleh Rusia. Sebuah basis data Associated Press telah mendokumentasikan 147 insiden, termasuk dua kasus yang dilaporkan oleh Denmark minggu ini.

Tidak semua insiden bersifat publik dan terkadang dibutuhkan waktu berbulan-bulan bagi para pejabat untuk menetapkan keterkaitan dengan Moskow.

Meskipun para pejabat mengatakan operasi tersebut — yang dilancarkan sejak invasi Presiden Vladimir Putin ke Ukraina pada tahun 2022 — bertujuan untuk menghilangkan dukungan bagi Kyiv, mereka percaya Moskow juga mencoba mengidentifikasi titik lemah Eropa dan menyedot sumber daya penegak hukum.

Badan intelijen Denmark mengatakan satu kelompok melakukan "serangan destruktif" terhadap perusahaan air minum pada tahun 2024 dan kelompok lain bertanggung jawab atas serangan siber terhadap situs web Denmark menjelang pemilihan umum baru-baru ini.

Kedua kelompok tersebut disebut memiliki hubungan dengan negara Rusia.

“Negara Rusia menggunakan kedua kelompok tersebut sebagai instrumen perang hibrida melawan Barat. Tujuannya adalah untuk menciptakan ketidakamanan di negara-negara yang menjadi sasaran dan untuk menghukum mereka yang mendukung Ukraina,” demikian pernyataan tersebut.

Sementara itu toritas Jerman memanggil duta besar Rusia di Berlin pada 12 Desember setelah kementerian luar negeri menuduh Moskow melakukan sabotase, serangan siber, dan campur tangan dalam pemilihan umum.