JAKARTA - Ribuan warga Kamboja menggelar aksi damai pada Kamis kemarin di tengah berlanjutnya konflik perbatasan dengan Thailand.
Aksi tersebut mendesak kedua negara untuk menghormati perjanjian gencatan senjata dan menghentikan kekerasan yang kembali pecah sejak awal Desember.
Puluhan ribu orang berkumpul di ibu kota Phnom Penh untuk menyerukan perdamaian, menyusul konflik perbatasan yang kembali terjadi sejak 7 Desember dan telah memasuki hari ke-12.
Bentrokan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 55 orang dari kedua belah pihak.
Aksi damai ini diselenggarakan Persatuan Federasi Pemuda Kamboja (UYFC). Menurut kantor berita milik negara, Agence Kampuchea Presse, kegiatan bertujuan menunjukkan komitmen Kamboja terhadap perdamaian sekaligus mendesak penghormatan terhadap gencatan senjata dan perjanjian perdamaian antara Kamboja dan Thailand.
“Kita semua menyaksikan konsekuensi perang. Ini adalah bentrokan perbatasan kedua dalam konflik tujuh bulan ini, dan rakyat Kamboja sepenuhnya menyadari bahaya perang,” kata Ketua UYFC Hun Many saat memimpin aksi tersebut dikutip dari Anadolu, Jumat, 19 Desember.
Di sisi lain, Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk menyatakan keprihatinannya atas laporan serangan di wilayah sipil. Ia menyebut daerah sekitar desa dan situs budaya dilaporkan dihantam jet tempur, drone, dan artileri.
“Berdasarkan hukum humaniter internasional, sangat jelas bahwa perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil adalah yang terpenting,” kata Turk, seraya mendesak kedua pihak untuk segera menghentikan tembakan dan kembali ke meja dialog.
Bentrokan di wilayah perbatasan terus berlangsung meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump pekan lalu menyatakan para pemimpin Thailand dan Kamboja telah sepakat menghentikan pertempuran yang kembali pecah.
Menurut otoritas Thailand, konflik tersebut menewaskan 21 tentara Thailand dan 16 warga sipil. Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Kamboja melaporkan 18 warga sipil Kamboja tewas dan 78 orang lainnya mengalami luka-luka.
Thailand dan Kamboja sebelumnya menandatangani perjanjian perdamaian pada Oktober di Kuala Lumpur, disaksikan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Namun, perjanjian tersebut ditangguhkan setelah seorang tentara Thailand terluka parah akibat ledakan ranjau darat di wilayah perbatasan.
BACA JUGA:
Sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung lama dan berulang kali memicu kekerasan. Pada Juli lalu, bentrokan serupa dilaporkan menewaskan sedikitnya 48 orang.