Bagikan:

JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan Moskow akan berupaya memperluas wilayah kekuasaannya di Ukraina jika Kyiv dan sekutu-sekutu Baratnya menolak tuntutan Kremlin dalam perundingan perdamaian.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menggencarkan upaya diplomatik yang ekstensif untuk mengakhiri hampir empat tahun pertempuran setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, tetapi upaya Washington menghadapi tuntutan yang sangat bertentangan dari Moskow dan Kyiv.

Berbicara pada pertemuan tahunan dengan para perwira militer tinggi, Putin mengatakan Moskow lebih memilih untuk mencapai tujuannya dan "menghilangkan akar penyebab konflik" melalui cara diplomatik.

Tetapi Putin mengatakan "jika pihak lawan dan para pendukung asingnya menolak untuk terlibat dalam dialog substantif, Rusia akan mencapai pembebasan tanah bersejarahnya dengan cara militer."

Ukraina dan sekutu-sekutu Baratnya menganggap tindakan Rusia sebagai pelanggaran kedaulatan dan tindakan agresi tanpa provokasi.

Putin mengklaim “tentara Rusia sudah merebut dan memegang teguh inisiatif strategis di sepanjang garis depan” dan memperingatkan bahwa Moskow akan bergerak untuk memperluas “zona keamanan penyangga” di sepanjang perbatasan Rusia.

“Pasukan kita sekarang berbeda, mereka sudah berpengalaman dalam pertempuran dan tidak ada pasukan lain seperti itu di dunia saat ini,” katanya dilansir Associated Press, Rabu, 17 Desember.

Putin memuji kekuatan militer Rusia yang semakin meningkat dan secara khusus mencatat modernisasi persenjataan atomnya, termasuk rudal balistik jarak menengah Oreshnik berkemampuan nuklir baru yang menurutnya akan secara resmi memasuki tugas tempur bulan ini.

Rusia pertama kali menguji versi Oreshnik yang dipersenjatai secara konvensional untuk menyerang pabrik di Ukraina pada November 2024. Putin juga membanggakan rudal tersebut tidak mungkin dicegat.