BANTUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul menyebut pembangunan jembatan darurat berbahan bambu di kawasan tanah longsor Srikeminut, Kelurahan Sriharjo, telah selesai dan mulai digunakan warga.
“Sekarang ini jembatan darurat dari bambu yang di Sriharjo sudah jadi. Kemarin sudah diuji coba warga dan sudah digunakan untuk aktivitas mobilitas,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin di Bantul, Antara, Jumat, 12 Desember.
Jembatan darurat tersebut dibangun sebagai akses sementara bagi warga Pedukuhan Wunut dan Sompok Sriharjo setelah akses jalan satu-satunya di wilayah itu putus akibat tebing Sungai Oya longsor pada Jumat (21/11).
Jembatan sepanjang 220 meter dengan lebar dua meter itu menjadi bagian dari penanganan masa tanggap darurat banjir dan longsor yang ditetapkan Pemkab Bantul sejak 21 November hingga 19 Desember 2025.
“Dengan jembatan darurat itu, mobilitas warga makin mudah, meskipun hanya untuk motor. Tidak boleh untuk mobil karena lebarnya tidak memungkinkan. Untuk mobil kami sarankan lewat jembatan di Selopamioro,” ujar Mujahid.
Ia menjelaskan bahwa jembatan dibangun pada titik yang tidak rawan longsor, dengan elevasi sekitar satu meter sehingga bagian bawahnya dapat ditanami berbagai tanaman. Jembatan ini diperkirakan dapat bertahan hingga satu tahun.
Lurah Sriharjo Titik Istiawatun Khasanah menyampaikan bahwa jembatan darurat tersebut telah diuji coba warga pada Kamis (11/12) sore. Proses finishing oleh Pemkab Bantul masih berlangsung dan diperkirakan rampung pada Jumat sore.
“Insyaallah sore nanti jembatan sudah bisa dipakai,” ujarnya.
Pascalongsor pada November lalu, warga sempat membuat jalan darurat. Namun, jalur tersebut berbahaya sehingga tidak lagi digunakan setelah Pemkab Bantul melakukan penanganan lanjutan.
BACA JUGA:
Ia berharap kehadiran jembatan darurat bambu dapat memberi keamanan dan kenyamanan bagi warga yang melintas, meski sementara ini hanya dapat digunakan oleh pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara sepeda motor.