Bagikan:

JAKARTA - Ketua DPR RI Puan Maharani mewanti-wanti Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal Suharyanto, agar lebih hati-hati dalam menyampaikan informasi mengenai bencana banjir bandang dan longsor yang di terjadi wilayah utara Pulau Sumatera.

Puan mengingatkan seluruh pejabat negara agar memperluas empati terhadap korban yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menilai, anggapan bahwa bencana tersebut hanya mencekam di media sosial, sangat tidak bijak di tengah situasi yang penuh keprihatinan ini.

"Ya pada saat ini, lebih baik kita bisa berempati, jangan memberikan komentar yang tidak seharusnya diberikan. Karena memang situasinya musibah dimana-mana, kemudian bencana memang terjadi," ujar Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 3 Desember.

Daripada berkomentar sebelum mengetahui kejadian secara langsung, Puan mengajak pejabat negara agar bahu membahu mengirimkan bantuan.

"Jadi sekecil apapun yang terjadi tentu saja ada korban yang memang mengalami hal yang tidak mengenakan. Jadi sebaik-baiknya apa yang bisa dilakukan sebaik-baiknya kita perlu berikan bantuan," lanjut mantan Menko PMK itu.

Sebelumnya, Suharyanto mengungkap alasan mengapa bencana banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat belum ditetapkan sebagai bencana nasional.

Menurutnya, kondisi mencekam di lokasi bencana hanya terlihat di media sosial, tapi tidak demikian dengan kondisi terkini di lapangan.

Suharyanto pun menyebut, sejauh ini bencana di Indonesia yang pernah ditetapkan sebagai bencana nasional adalah pandemi COVID-19 dan Tsunami Aceh 2004. Ia meminta agar dilakukan perbandingan antara dua bencana nasional itu dengan beberapa bencana lain yang pernah terjadi.

Pernyataan Suharyanto itu lantas memantik amarah publik. Pasalnya, banjir di Aceh, Sumut dan Sumbar memang sangat parah hingga menyebabkan ratusan orang meninggal dunia, dan kerusakan di mana-mana.

Setelah ramai diperbincangkan publik, Suharyanto lalu meminta maaf buntut ucapannya yang menyebut bencana banjir dan longsor hanya mencekam di media sosial. Permintaan maaf itu disampaikan Suharyanto setelah meninjau lokasi bencana di Tapanuli Selatan dan melihat langsung pantauan dari atas udara menggunakan helikopter.

"Saya surprise (terkejut), saya tidak mengira sebesar ini. Saya tidak mengira sebesar ini. Saya mohon maaf Pak Bupati. Bukan berarti kami tak peduli," kata Suharyanto dalam konferensi pers, Senin, 1 Desember.

Ia pun memastikan seluruh upaya penanganan pasca bencana banjir bandang terus dilakukan pemerintah termasuk pemenuhan logistik.