YOGYAKARTA – Batak Mandailing merupakan salah satu kelompok etnis yang mendiami wilayah Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Kabupaten Mandailing Natal. Sama seperti suku-suku lainnya di Nusantara, kelompok etnis Batak Mandailing juga memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang unik. Artikel ini akan dibahas secara mendalam adat Batak Mandailing mulai dari bahasa, tradisi, hingga busana adat khas kelompok etnis itu. Yuk simak informasi selengkapnya di bawah ini.
Asal-Usul Suku Batak Mandailing
Menyadur buku bertajuk Asal-Usul, Silsilah, dan Tradisi Budaya Batak karya Pdt Dr Jonar Situmorang, M.A., M.Th, eksistensi kelompok etnis Mandailing didukung oleh kenyataan dengan disebutnya Nama Mandailing dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada abad ke-14 (1365 M).
Kitab Negarakertagama merupakan buku sejarah dan sastara pada zaman Majapahit. Kitab ini berisi tentang sejarah Kerajaan Majapahit. Dalam Pupuh XIII, nama Mandailing dan nama berbagai wilayah di Sumatera disebut sebagai “negara bawahan” Kerajaan Majapahit.
Penyebutan nama Mandailing dalam kitab itu merujuk pada sejarah bangsa asing dari India yang menganut agama Hindu, budaya, peradaban, teknologi, sistem pemerintahan berbaur dengan masyarakat asli setempat lalu membentuk suatu bangsa, masyarakat, suku, etnik, budaya, dan peradaban baru sesuai dengan tradisi masing-masing pada tahun 1030-1365 M.
Sebelum abad ke-18, Kaum Paderi datang ke daerah Natal dan Padang Lawas yang ada di Sumatera Utara. Sejak saat itu, budaya Minang dan agama Islam yang dibawa oleh kaum tersebut berbaur dengan budaya Batak setempat dan menghasilkan sub-etnis baru yang salah satunya adalah Mandailing.
Dengan kata lain, suku Mandailing merupakan percampuran antara suku Batak dan Minangkabaum yang lebih menonjolkan keagamaan. Ada banyak aspek yang dijadikan sebagai dasar bahwa Mandailing merupakan bagian dari suku Batak, yakni adat istiadatnya seperti bentuk ulos yang hampir sama, logat bahasa, dan aksara yang hampir sama. Bahkan ada marga yang serumpun.
Adat Batak Mandailing
Berikut beberapa adat Batak Mandailing yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi ciri khas kelompok etnis itu:
- Sistem kekerabatan
Adat Batak Mandailing yang pertama adalah bahwa kelompok etnis itu menerapkan sistem kekerabatan patrineal, di mana mereka mengenal dan menggunakan sistem marga.
Dalam suku Mandailing, ada belasan marga seperti Lubis, Nasution, Pulungan, Batubara, Parinduri, dan lain sebagainya.
- Bahasa
Dari segi bahasa, bahasa yang digunakan kelompok etnis Batak Mandailing masih satu rumpun dengan bahasa Batak, namun dengan pengucapan yang lebih lembut ketimbang bahasa Angkola. Penduduk yang masih masih menggunakan bahasa Mandailing sebagai bahasa sehari-hari sebagian besar mendiami wilayah Kabupaten Mandailing Natal.
Selain itu, bahasa Batak Mandailing juga dipakai dalam upacara adat, ritual, dan kegiatan adat lainnya. Bahasa Mandailing mempunyai ciri tersendiri, baik dari segi bentuk, proses pembentukan kata, makna kata, hingga aturan penggunaannya, sebab dalam bahasa Mandailing, intonasi dapat memengaruhi arti.
- Rumah Adat
Dalam adat Batak Mandailing, rumah adat kelompok etinis ini disebut “bagas godang” yang artinya rumah besar. Pada zaman dahulu, rumah adat bagas godang merupakan tempat kediaman raja-raja yang memimpin suatu daerah.
Rumah adat bagas bodang memiliki bentuk persegi panjang dengan jumlah tiang 25 buah. Bagian atapnya berbentuk limas dengan bentuk runcing di sisi kiri dan kanan. Material kontruksinya terbuat dari kayu berkualitas tinggi sehingga bisa bertahan hingga ratusan tahun.
- Pernikahan
Pernikahan dalam adat Batak Mandailing melibatkan serangkaian upacara adat yang sacral. Prosesnya dimulai dari padamos hata (perbincangan awal), dilanjutkan dengan mangairit boru (mencari tahu calon menantu, mangupa (penyerahan mahar atau tuor), manulak sere (penyeragan mas kawin), markobar (musyawarah adat), hingga upacara Tapian Raya Bangunan untuk membersihkan diri dari sifat buruk, dan diakhiri dengan penyematan gelar adat serta mangupa (penyampaian nasihat).
- Busana atau pakaian adat
Pakaian adat Mandailing biasanya digunakan pada upacara penting seperti pernikahan atau upacara adat.
Menyadur buku Keragaman Suku Bangsa di Daerahku, ciri khas pakaian adat Batak Mandailing adalah memiliki warna terang dan menarik. Warna yang dipakai pada pakaian adat Mandailing yakni warna merah, keemas an dan hitam.
BACA JUGA:
Secara lebih rinci, berikut bagian pakaian adat Mandailing untuk pria:
- Menggunakan penutup kepala berwarna hitam dan emas yang disebut Ampu.
- Terdapat Ulos Sadum di bagian bahu dengan warna cerah seperti merah, hijau, dan hitam.
- Setelan jas bernama Baju Godang yang dilengkai ikat pinggang emas, gelang emas pada lengan, dan diselipkan dua pisau kecil yang disebut bobat.
Sementara bagian pakaian adat Mandaling untuk wanita, yakni:
- Menggunakan penutup kepala emas yang disebut Bulang.
- Mengenakan Ulos Sadum yang dibuat dengan alat tenun.
- Baju yang dikenakan adalah baju kurung atau kebaya panjang dengan bawahan kain songket.
Demikian informasi tentang adat Batak Mandailing. Dapatkan update berita pilihan lainnya hanya di VOI.ID.