JAKARTA - Korban tewas akibat Topan Kalmaegi di Filipina dan Vietnam terus bertambah menjadi 188 orang. Terbaru, ada 5 orang dilaporkan meninggal di Vietnam setelah topan menghantam wilayah pesisir dengan angin kencang dan hujan lebat.
Topan tersebut mendarat di Vietnam tengah pada Kamis malam, menumbangkan pepohonan, merusak rumah, dan memicu pemadaman listrik, sebelum melemah saat bergerak ke daratan.
Pihak berwenang telah memperingatkan kemungkinan hujan lebat hingga 200 milimeter (8 inci) di provinsi tengah dari Thanh Hoa hingga Quang Tri, dan mengatakan naiknya permukaan air sungai dari Hue hingga Dak Lak dapat memicu banjir dan tanah longsor.
Di Filipina, Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengunjungi pusat-pusat evakuasi pada Jumat, mendistribusikan bantuan dan meyakinkan para korban mengenai dukungan pemerintah yang berkelanjutan, setelah Kalmaegi menyebabkan 135 orang hilang dan melukai 96 lainnya.
"Kami sangat, sangat menyesal," ujarnya kepada para pejabat provinsi dilansir Reuters, Jumat, 7 November.
"Sebagian besar korban tersapu oleh derasnya air, volume dan kecepatan banjir bandang."
Kalmaegi adalah topan ke-13 yang terbentuk di Laut Cina Selatan tahun ini.
BACA JUGA:
Vietnam dan Filipina sangat rentan terhadap badai tropis dan topan karena lokasinya di sepanjang sabuk topan Pasifik, yang secara teratur mengalami kerusakan dan korban jiwa selama musim badai puncak.
Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa badai seperti Kalmaegi menjadi lebih kuat seiring dengan meningkatnya suhu global.
Pengatur penerbangan sipil Filipina telah meningkatkan kewaspadaan di seluruh pusat wilayah dan operasional bandara sebagai persiapan menghadapi badai lain, Fung-wong, yang diperkirakan akan meningkat menjadi topan super sebelum mendarat di Filipina utara pada Minggu malam atau Senin dini hari.