Bagikan:

JAKARTA - Para menteri luar negeri dari beberapa negara mayoritas Muslim bertemu di Istanbul pada Senin untuk membahas gencatan senjata Gaza yang rapuh.

Saat ini Hamas dan Israel saling tuduh atas pelanggaran dan perundingan mengenai pembentukan pasukan untuk memantau gencatan senjata terus berlanjut.

Dilansir Reuters, Senin, 3 November, para menteri luar negeri Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Pakistan, dan Indonesia akan menghadiri pertemuan tersebut untuk membahas gencatan senjata dan situasi kemanusiaan di Gaza, ungkap seorang sumber Kementerian Luar Negeri Turki pada Minggu.

Para menteri, yang pemimpinnya bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di New York pada September, akan membahas tahap selanjutnya dari kesepakatan gencatan senjata Trump dan pembentukan "pasukan stabilisasi internasional" yang direncanakan, ujar Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan pada Jumat pekan lalu

Gencatan senjata Gaza yang ditengahi AS, yang membuat isu-isu seperti perlucutan senjata kelompok militan Palestina Hamas dan tenggat waktu penarikan Israel dari Gaza belum terselesaikan, telah diuji oleh kekerasan berkala sejak mulai berlaku pada 10 Oktober.

Turki, anggota NATO, menjadi salah satu pengkritik paling vokal atas serangan Israel selama dua tahun di Gaza, menyebutnya sebagai genosida, yang dibantah Israel.

Israel telah muncul sebagai pemain kunci dalam upaya gencatan senjata, membantu memediasi kesepakatan dan menyuarakan keinginan untuk bergabung dengan satuan tugas guna memantau implementasinya.

Namun, Israel menyuarakan penentangannya terhadap keterlibatan Turki tersebut, di saat upaya sedang dilakukan untuk mengidentifikasi modalitas pasukan pemantau gencatan senjata dan menyetujui mandat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait.

Berbicara di Istanbul menjelang perundingan tingkat menteri, Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan meskipun Hamas mematuhi gencatan senjata, Israel memiliki "rekam jejak yang sangat buruk" dalam hal tersebut.

"Sejak perjanjian gencatan senjata, kita menghadapi pemerintahan (Israel) yang telah menewaskan lebih dari 200 orang tak berdosa dan belum menghentikan pendudukan dan serangannya di Tepi Barat," ujarnya.

Erdogan menegaskan Ankara tidak akan mengizinkan aneksasi Tepi Barat atau upaya untuk mengubah status Yerusalem dan merusak kesucian Masjid Al-Aqsa.

Israel juga menuduh Hamas melanggar perjanjian tersebut dan mengatakan tindakannya merupakan tindakan membela diri.

Turki mengatakan Israel mencari "alasan" untuk mengakhiri perjanjian dan melanjutkan operasinya.

Israel menyatakan komitmennya terhadap rencana Trump. Tapi Turki dan negara-negara lain telah menyuarakan kekhawatiran atas keberlanjutan gencatan senjata, sehingga menunda beberapa upaya untuk maju ke tahap selanjutnya.