Bagikan:

JAKARTA - Perwakilan Taiwan pada KTT APEC akhir pekan lalu menepis protes China terkait pertemuannya dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di sana. Taipe menegaskan pertemuan dengan para pemimpin yang hadir merupakan hal yang "sangat wajar".

China sebelumnya mengajukan protes keras kepada Jepang terkait pertemuan di sela-sela KTT di Korea Selatan, setelah Takaichi mengunggahnya di akun X miliknya dan menyebut perwakilan Taiwan, Lin Hsin-i, sebagai penasihat senior di kantor kepresidenan.

Lin, mantan menteri ekonomi, mengatakan kepada wartawan di Taipei, semua delegasi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) berpartisipasi secara setara dan semua pemimpin serta perwakilan saling berbincang.

"Tidak ada yang aneh tentang hal itu. Ada banyak interaksi semacam ini," ujarnya, ketika ditanya tentang kemarahan Tiongkok atas pertemuan dengan Takaichi. "Kami banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan banyak pemimpin. Itu hal yang sangat normal,” sambungnya dilansir Reuters, Senin, 3 November.

Jepang, seperti kebanyakan negara, tidak memiliki hubungan formal dengan Taiwan yang diklaim China, tetapi merupakan sekutu tidak resmi yang kuat.

APEC adalah salah satu dari sedikit pertemuan internasional yang diikuti Taiwan, meskipun presidennya tidak hadir.

Takaichi dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk menjalin hubungan yang konstruktif dan stabil pada pertemuan mereka di APEC pada Jumat pekan lalu.

Sebelum menjabat, Takaichi menyarankan Jepang untuk membentuk "aliansi kuasi-keamanan" dengan Taiwan, dan mengatakan setiap kemungkinan yang terjadi di sana akan menjadi keadaan darurat bagi Jepang dan sekutunya, Amerika Serikat.

Pemerintah Taiwan menolak klaim Beijing atas pulau tersebut, dengan mengatakan bahwa hanya rakyat Taiwan yang dapat menentukan masa depan mereka.