JAKARTA - Jaksa Agung ST Burhanuddin mencopot Hendri Antoro dari jabatan kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat (Kajari Jakbar) terkait kasus dugaan penilapan uang barang bukti (barbuk) perkara investasi bodong robot perdagangan alias robot trading Fahrenheit pada 2023.
“Sudah diberikan hukuman disiplin dan dicopot dari jabatannya,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Anang Supriatna di Jakarta, Kamis 9 Oktober.
Terkait soal keterlibatan Hendri dalam kasus penilapan tersebut, Anang tidak menjelaskan dengan detail.
“Dia sebagai atasan saja,” katanya dikutip dari Antara.
Ketika awak media menanyakan apakah Hendri akan diusut secara pidana, Anang tidak menjawab. Dia hanya menegaskan Hendri sudah diproses secara internal.
Adapun saat ini Hendri telah digantikan oleh Aspidsus Kejati DKI, Haryoko Ari Prabowo, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kajari Jakbar.
Diketahui, dalam kasus dugaan penilapan uang barang bukti (barbuk) perkara investasi bodong robot trading Fahrenheit pada 2023, mantan jaksa pada Kejaksaan Negeri Jakarta Barat (Kejari Jakbar) Azam Akhmad Akhsya dijatuhi 9 tahun penjara atas keterlibatannya.
Dalam kasus ini, Azam memperoleh uang dari hasil gratifikasi dengan cara meminta "uang pengertian" sebesar Rp 11,7 miliar dari tiga orang penasihat hukum korban investasi robot trading Fahrenheit, yakni Oktavianus Setiawan, Bonifasius Gunung, dan Brian Erik First Anggitya, pada saat eksekusi perkara tersebut.
Rinciannya, sebesar Rp 3 miliar diterima dari Bonifasius, Rp 8,5 miliar dari Oktavianus, serta Rp 200 juta dari Brian.
BACA JUGA:
Dalam berkas dakwaan oleh jaksa penuntut umum (JPU), Azam disebut juga membagikan uang tersebut kepada sejumlah orang, salah satunya Kajari Jakbar Hendri Antoro sebesar Rp 500 juta.
Uang tersebut dititipkan oleh Azam melalui Dody Gazali selaku plh kasi pidum/kasi BB Kejari Jakbar pada Desember 2023.