JAKARTA - Basarnas memperketat koordinasi penggunaan alat berat dalam operasi pencarian korban robohnya bangunan bertingkat Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, untuk memastikan keselamatan personel dan efektivitas evakuasi.
Direktur Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo mengatakan pengalaman sehari sebelumnya menunjukkan perlunya pengaturan lebih rinci antara operator alat berat dan tim penyelamat.
“Kami sudah koordinasi dengan Dandim selaku penanggung jawab alat berat agar penggunaannya lebih tepat. Ada beberapa titik yang sebaiknya tidak digarap alat berat, tetapi dilakukan manual oleh personel kami,” kata Yudhi dilansir ANTARA, Sabtu, 4 Oktober.
Menurut dia, kondisi lapangan menunjukkan ada lokasi yang serpihan betonnya harus dipotong terlebih dahulu bagian strukturnya, sebelum tim penyelamat turun langsung untuk mengevakuasi korban.
Data Basarnas mencatat pada Jumat (3/10), tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi sembilan jenazah dengan kombinasi metode manual dan dukungan alat berat. Namun, proses di beberapa titik memakan waktu lebih lama karena posisi korban sulit dijangkau.
“Kami bagi tim menjadi tiga sektor agar pencarian lebih cepat. Tetapi tetap prinsipnya, keselamatan personel nomor satu,” ujarnya.
BACA JUGA:
Koordinasi yang lebih ketat diharapkan mempercepat proses pencarian pada hari ini yang merupakan hari keenam pascarobohnya bangunan bertingkat Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo, sekaligus mengurangi risiko kerja di lapangan.