Bagikan:

JAKARTA - Unjuk rasa mengenang pembantaian mahasiswa demonstran tahun 1968 di ibu kota Meksiko diwarnai tuntutan untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Gaza, Palestina.

Demo tahunan dalam balutan pawai untuk tahun 2025 ini dipenuhi dengan bendera Palestina dan spanduk mendesak diakhirinya operasi militer Israel di Gaza.

“Kami berempati bukan hanya untuk keluarga kami, untuk mereka yang telah diperjuangkan kakek-nenek kami, tetapi juga untuk semua pria dan wanita di seluruh dunia yang menderita apa yang dulu kami derita,” kata Edgar López, seorang mahasiswa ekonomi berusia 23 tahun, yang long march dengan bendera Palestina di punggungnya, Jumat 3 Oktober, dikutip dari AP.

Para pengunjuk rasa berbaris dari alun-alun Tlatelolco, tempat pasukan Meksiko pada tahun 1968 menyerang mahasiswa yang menuntut diakhirinya militerisasi Meksiko. Peristiwa tersebut berujung jatuhnya banyak korban meninggal dunia tanpa pernah diketahui jumlahnya, yang diperkirakan mencapai ratusan tewas.

Unjuk rasa ini berlangsung damai, namun untuk beberapa titik sempat panas, termasuk beberapa kelompok merusak etalase pertokoan dan melemparkan benda-benda, termasuk bom molotov, ke arah ratusan polisi yang menjaga Istana Nasional Meksiko.

Para pejabat Kota Meksiko memperkirakan unjuk rasa tersebut menarik 10.000 orang, sementara pihak berwenang mengatakan ada sekitar 350 orang yang mengenakan topeng dan bertindak agresif.